Monday, February 27, 2012

You’re My Shining Star


You’re My Shining Star

Author : Cynthia Adysaa
Cast : Park Sooyoung a.k.a reader
         Onew SHINee a.k.a Lee Jinki
Other cast : Soon Yoon Ah
                  Yang lain temukan sendiri
Genre : Sad, romantic
Ratting : PG
Lenght : onesshoot
Disclaimer : Ini hanya cerita fiktif hasil dari imajinasi saya. jika ada kesamaan nama tokoh, saya minta maaf

            Seoul 01.00 PM
            Seoul masih terlihat ramai dimalam selarut dan sedingin ini. Aku menyusuri jalanan yang penuh dengan hamparan salju putih. Mereka terlihat kusam dimataku.aku yakin aku tak sedang mabuk tapi entah mengapa bola mataku terasa berputar-putar. Ini sangat menyakitkan karna efeknya membuat kepalaku pusing. Tapi aku tetap berjalan, menyeruak diantara kerumunan orang yang entah sedang mabuk atau tidak. Aku tidak kuat, mereka tertawa terbahak-bahak dan itu membuat telingaku tuli. Tiba-tiba aku merasa benci dengan mereka semua.
            Orang-orang di jalan itu, bos, semua partner kerjaku, ayah, ibu, bahkan para penjual bakso ikan dijalan ini aku benci mereka semua. Terutama gadis itu, gadis yang telah membuat seluruh pekerjaanku menjadi berantakan. Aku benci dia, aku benci, aku aku. . . .
            “arrgh... kepalaku, sial!” umpatku lemah
            BRUUK~ semua menjadi gelap, aku tidak ingat apa-apa lagi.

            Cuuurrrrr.............srek srek......cethek.....
            Aku bangun. Dahiku terasa basah dan seperti ada yang menempel. Aku menyentuhnya, sebuah kompres. Ada apa ini? Kenapa aku harus dikompres?
            Aku mencoba bangkit, tapi sakit dikepalaku masih belum berkurang. Aku memandang sekelilingku, dan baru sadar aku sedang berada di ruang yang asing.
            “Halo, apa ada orang disini?” aku mencoba bersuara
            Seorang namja melongokkan kepalanya dari balik pintu. Ia terlihat sibuk dengan celemek dipinggang dan sebuah sendok besar di tangan kanannya.
            “kau sudah bangun?” tanyanya
            Aku mengangguk dan masih merasa bingung dengan keadaan sekitar. Aku mencoba bangkit dari tempat tidur tapi mataku terasa berkunang-kunang. Sekilas kulihat namja tadi tertegun melihatku dari balik pintu.
            “tunngu sebentar” ia beranjak menghampiriku. Disodorkannya segelas air putih yang ia ambil dari meja sebelah tempat tidur. Aku memandangnya heran dan menerima begitu saja segelas air putih itu lalu meminumnya.
            “gwenchana agasshi? Tanyanya dengan nada penuh kekhawatiran.
            Aku tersenyum, “ne, gwenchanayo” ucapku dengan suara serak
            “kau nampak tidak sehat. Apakah kau perlu ke dokter?” tanyanya lagi
            “eng....anniyo. nae gwenchana. Sepertinya semalam aku mabuk” ujarku berbohong
            Senyum kelegaan terpancar dari wajah tampannya.
            “baguslah agasshi...tapi aku sudah membuatkan bubur untukmu, kau harus memakannya” ia berdiri dan bergegas kembali ke dapur, tapi dengan sekali sentakan aku menahan tangan kirinya agar dia berhenti.
            “tunggu....dimana aku sebenarnya? Dan siapa kau?” tanyaku. Ia menoleh dan tersenyum lebar
            “selamat datang dirumahku, rumah Lee Jinki”

            Drrt drrt drrt drrt~
            Aku membuka kelopak mataku dan bergegas mengambil handphoneku yang kusimpan dibawah bantal. Ada satu pesan diterima.
            From : Jinki
            Apa kau sudah makan Park Sooyoung agasshi? Hari ini aku membuat bubur lagi. Memakannya aku jadi teringat padamu ^^
            Aku tersenyum, dengan cepat aku membalasnya.
            To : Jinki
Bubur lagi? Aku memang belum makan, maukah kau memberikannya padaku? Aku sangat lapar.
            Tak lama kemudian ponselku bergetar lagi.
            From : Jinki
                        Baiklah, sepuluh menit lagi ne ^^
            Aku meletakkan ponselku lagi. Masih dalam keadaan tersenyum aku kembali merebahkan tubuhkan kekasur. Namja ini aneh sekali. Namja dengan muka penuh senyum dan ramah yang sangat perhatian padaku. Dia namja yang baik namun kurangajar. Aku tersenyum kembali ketika ingat bagaimana ia memanggilku dengan sebutan agasshi.
            Dan aku berharap aku bisa merasakan getaran-getaran aneh ketika memandanginya. Aku serius, aku ingin jatuh cinta padanya. Tapi aku tetap tidak bisa mengontrol dan membagi rasa sayang terhadap seorang namja. Aku ingin merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta pada seorang namja, diperlakukan romantis dan memperkenalkannya pada umma dan appa.
            Tapi sayangnya, aku lesbian. Aku yeoja dan pencinta yeoja. Selama ini aku memang menikmatinya dan hampir tak mempunyai kendala apapun dalam hubungan cinta. Tapi setelah kejadian kemarin, kejadian yang akhirnya menyadarkanku betapa semua yeoja didunia ini sangat memuakkan, aku ingin berhenti. Aku ingin memulai semuanya dari awal lagi.
            Lamunanku membuyar saat kurasakan lagi getaran dari ponselku. Aku segera membukanya.
            From : Jinki
                        Seoul macet. Mau menemuiku ditaman Namsan saja? Kita sarapan disana
            Aku meletakkan ponselku dan bergegas keluar sembari menyambar syal merah kesayanganku. Namsan park, aku datang.

            Jinki tertegun dan memandangku dengan tatapan aneh ketika aku selesai bicara. Ia bahkan menghentikan aktivitasnya saat makan. Ia meletakkan sumpitnya dan mukanya memucat saat aku melanjutkan bicaraku
            “jadi kau?” ucapnya lemah, “lesbian?” lanjutnya
            Aku menatapnya nanar dan malu. Aku tidak pernah membocorkannya pada siapapun apalagi pada orang yang baru kukenal seperti Jinki. Aku terpaksa mengangguk lemah.  Aku pikir seharusnya aku tidak lagi menutupinya karna aku ingin berubah. Tapi pada akhirnya aku hanya menyesal seperti ini karna menceritakannya pada orang yang salah. Harapanku untuk berubah terkikis sedikit.
            Jinki terlihat shock dan terlihat sedikit canggung. Aku mencoba mencairkan suasana dengan mengeluarkan lelucon-lelucon terbaikku. Tapi semua usahaku tidak berhasil, aku mulai putus asa. Jinki tetap diam.
            Hening~
            “kau sepertinya jijik padaku” ujarku. Kudengarkan sendiri suaraku yang bergetar
            Jinki menatapku “anni” ucapnya pendek
            Mataku terasa perih. Aku tau dia berbohong. Wajah polosnya itu tidak pernah bisa menyembunyikan perasaan yang sesungguhnya. Aku menarik napas dalam-dalam
            “aku sebenarnya ingin berubah, tapi...” aku tercekat,
            “sepertinya kau tidak bisa membantuku ya” aku berusaha tersenyum.
            “kau tidak menyukaiku kan?” lanjutku
            Jinki terlihat kaget, “anni... ehmm maksudku iya” dia menggaruk-garuk kepalanya
            “tidak apa...kau pasti kaget” aku pura-pura melirik jam tanganku,
            “sudah siang, aku harus kuliah” tutupku
            Aku hampir tidak bisa berkata-kata lagi. Rasa kecewa yang berlebih dan sulit kubendung telah menguasaiku. Mataku terasa perih lagi. Aku berbalik dan tetes demi tetes air mata mulai turun.
            “Sial” makiku
            Aku melangkah pergi meninggalkan Jinki, jauh, jauh, jauh smapai kupastikan dia tak melihatku lagi.

Untuk orang yang berbeda, perlu pengorbanan empat minggu, terhitung sejak hari itu, Jinki tak lagi menemuiku. Jangankan menemui, mengunjungi saja tidak. Aku mencoba untuk tidak lagi menaruh harapan  pada Jinki. Aku terus beralih dari namja ke namja lain, tapi tetap saja tidak membawa perubahan yang berarti. Mereka menjauhiku dan mundur selangkah demi selangkah begitu tau siapa diriku yang sebenarnya.
Aku mulai membenci namja. Tapi aku membenci mereka disaat yang salah, karna ponselku berbunyi dan nama yang tertera disitu sontak membuat jantungku berdebar-debar.
Soon yon ah!
Ada apa ini? Kenapa dia meneleponku?
“yeoboseyo” ucapku bergetar
“yeoboseyo,  Sooyoung ah?” suaranya terdengar merdu
Aku menelan ludah, “ne, waeyo?”
Terdengar isak tangis dari sebrang, “soon yon ah, waeyo?” tanyaku khawatir
Yoon ah menghela napas, “anniyo, sooyoung eonnie...neomu bogoshipo”
Aku tak bisa lagi menyembunyikan kelegaan yang luar biasa didada ini. Antara senang dan sedih. Antara bahagia dan sakit. Aku tak tau harus bagaimana.
“nado bogoshipo” balasku, dan tak bisa lagi menahan senyum
“mari kita bertemu eonnie...”
Tiba-tiba aku ingat bahwa aku membencinya, karna ia pergi begitu saja meninggalkanku bersama seorang namja. Itulah mengapa hatiku terasa sakit. Aneh rasanya jika aku menemuinya lagi. Tapi rasa kangen yang begitu besar mengalahkan semuanya.
“araseo, tempat yang biasa ya, ok?” putusku
“ok, bye” balasnya
“bye” tutupku

            “Hyun Joong oppa meninggalkanku begitu saja eonnie” keluhnya
            Aku menghela napas. Sudah menduga pasti telah terjadi sesuatu dengan gadis ini.
            “kenapa bisa begitu?”
            Ia mengangkat bahunya, “entahlah eonnie”
            “aku rasa dia hanya mempermainkanku” bahunya mulai terguncang. Ia menangis.
            Aku hanya tertegun melihatnya. Ada rasa kasihan, sayang, dan campur aduk didada. Aku sadar aku masih sangat mencintainya. Ia gadis yang polos dan cantik. Siapa yang bisa luput dari pesonanya?
            Tanganku bergerak tanpa kusadari. Kubelai rambut blondenya dengan rasa sayang. Kusadari dadaku bergetar, tapi aku tidak coba melawannya dan terus menikmati perasaan bahagia ini
            Yoon ah mendongak “eonnie...” ujarnya disela-sela tangisnya, “saranghae”
            Aku memandangnyadengan penuh kasih.  Ingin sekali aku menciumnya setelah kudengar kata-kata itu. Tapi suasana kafe yang ramai hanya bisa membuatku gigit jari.
            “eonnie” ucapnya lagi
            Cukup! Aku merengkuhnya dalam-dalam didadaku. Aku hampir menangis dibuatnya. Aku hampir saja menciumnya ketika tiba-tiba seseorang menarikku kebelakang. Aku menoleh kesal, namun setelah aku tau siapa orang yang telah berani menggangguku, aku terkesiap. Lee Jinki!
            “Jinki?” aku ternganga menatapnya. Bagaimana dia bisa tau aku disini?
            Jinki tidak menjawab, ia hanya menarik lenganku untuk pergi dari tempat itu. Aku hanya bisa pasrah karena tenaganya jauh lebih kuat. Ia terus menarikku hingga diujung jalan tanpa sepatah katapun. Sedangkan aku hanya bisa meringis kesakitan karna ia mencengkeram lenganku terlalu kuat.
            Sampai diujung jalan ia berhenti dan melepaskan sengkeramannya. Ia mendorongku dan memojokkanku didinding luar toko. Aku mendongak dan menatapnya sama tajamnya saat ia menatapku. Mata kami saling bertautan, dan sorot mata kepedihan terpancar dari sana.
            “waeyo?” tanyanya dingin
            “mwo?” tanyaku balik
            “kau bilang kau akan berubah, kau lupa?” Jinki mendengus
            “kau bohong” lanjutnya
            “aku tidak bohong” jawabku meninggi,
            “kenapa kau bertanya sekarang? Kemana saja kau selama ini?” pancingku
            “lalu kenapa tadi kau?” ia tercekat. Sedikit nada kekecewaan terdengar dari mulutnya.
            Aku menunduk, merasa menyesal. “karna kau tidak membantuku, dan kupikir semuanya telah selesai. Aku tidak tau harus bagaimana lagi dan minta pertolongan pada siapa lagi. Lalu dia datang dan...”
            “bagaimana dengan semua namja itu? Potongnya tergesa
            “namja itu? Apa maksudnya?” tanyaku heran
            “mereka semua, Kang Sooman, Lee Donghoo, Kim Jungsu.” Ujarnya sambil menyebutkan semua namja yang pernah dekat denganku
            “bagaimana kau tau?” ucapku setengah marah dan bingung
            Jinki menghela napas. “dengar... mianhae, jika selama ini aku membututimu, tapi percayalah, ini kulakukan untuk meyakinkan diriku”
            “meyakinkan apa?” aku mulai tak sabar
            “meyakinkanku....untuk bersamamu”
            Hening~
            Aku masih mencerna kata-katanya. Untuk bersamaku katanya? Itu berarti dia....
            “lalu apa yang kau dapat?” tanyaku pelan
            Jinki trsenyum, “kau memang sepertinya perlu bantuanku, Park Sooyoung agasshi”
            Aku tersenyum lebar, “Gomawo, Lee Jinki agasshi”

            Akhirnya aku punya seorang namjachingu! Aku senyum-senyum sendiri ketika mengingatnya. Walaupun kami berpacaran tapi aku tidak tau apakah Jinki juga menyukaiku. Aku sendiripun juga tidak tahu apakah aku menyukainya. Tapi ini adalah awal yang bagus untuk memulai semuanya dari awal lagi.
            Semuanya, kecuali sakit dikepalaku ini. Sakit ini makin lama makin sering kambuh. Dan menjadi sangat menyakitkan karna mempengaruhi penglihatanku juga. Akhirnya kuputuskkan untuk menemui seorang dokter.
            Dan disinilah aku sekarang, rumah sakit. Dokter itu duduk tepat di depanku dan sedang menatapku lurus. Mukanya datar, dan aku tahu sesuatu yang buruk telah terjadi.
            “kecelakaan dua tahun yang lalu itulah yang menyebabkan ini semua” dokter itu mulai membuka mulutnya
            “aku khawatir kau bisa buta jika tidak segera dioperasi, Park Sooyoung agasshi” tambahnya
            “BUTA?”
            “ternyata kecelakaan dua tahun yang lalu membuat kornea matamu sobek. Jika tidak ditranplantasi kornea, kau bisa buta”
            Tranplantasi? Buta? Apa ini? Aku masih bingung
            “sakit kepalamu yang makin parah juga merupakan salah satu efeknya.” Lanjutnya
            Shock. Aku terdiam, dan hanya bisa menangis. Ottokhae? Aku merasa, aku memang ditakdirkan untuk segera mati.

            Aku menelepon Jinki dan menceritakan semuanya dengan dramatis. Aku merasa, Jinki orang yang sangat nyaman untuk bersandar dan berkeluh kesah saat ini.
            “aku rasa kita harus bertemu” putusnya
            Akhirnya kami kembali bertemu di Namsan tower.
            Ia terlihat kacau sama halnya denganku. Ketika ia melihatku ia bergegas menghampiriku dan memelukku. Aku terkesiap, tapi tetap diam sambil menikmatinya. Ada desir-desir aneh dan rasanya hangat saat ia memelukku.
            “Gwenchana chagiya?”
            Aku menggeleng. Aku menangis ketika ingat bahwa aku tak lagi bisa bicara ‘ne, gwenchana’ pada semua orang yang bertanya tentang keadaanku. Jinki hanya diam melihatku menangis dipelukannya. Ia membiarkanku menjadikannya obyek pelampiasan amarahku. Aku berteriak, memakinya, memukul, dan menenggelamkan wajahku di pelukannya. Terus begitu hingga akhirnya aku merasa lelah dan berhenti.
            “jinki-ah...tolong aku”

            1 tahun kemudian~
            “Jinki-ah saranghae” bisikku ditelinganya
            Samar-samar aku melihat seulas senyum dari wajahnya, “nado saranghae”
            Aku tersenyum bahagia. Aku benar-benar jatuh cinta padanya. Aku normal sekarang. Selama setahun belakangan ini, ia selalu menemaniku melakukan check-up. Aku senang dia ada disampingku. Kehadirannya sedikit meringankan rasa sakitku. Dan penantian satu tahun hampir berakhir. Setelah satu tahun nyaris aku tidak dapat melihat. Pada akhirnya aku mendapat donor kornea. Dan tebak siapa yang mendonorkannya padaku? Soo yoon ah! Gadis yang polos, gadis yang cantik, gadis yang terluka karna ia tahu bahwa aku sudah memiliki namjachingu. Dan gadis yang dulu sangat aku cintai. Ia telah pergi selama-lamanya.
            Aku masih ingat bagaimana ia bercerita bahwa ia dan HyunJoong sudah baikan. Bagaimana ia sangat mencintai HyunJoong lebih dariku. Aku senang mendengarnya namun terasa sakit. Aku senang karena pada akhirnya ia tak lagi menyukaiku, tapi disisi lain aku merutuki diriku yang tidak bisa meyakinkannya untuk segera meninggalkan dunianya dan bergabung bersamaku.
            Pada akhirnya aku benar-benar terlambat dan aku menyesal. Dihari yang sama saat ia akan berkencan dengan HyunJoong, ia berbisik padaku.
            “eonnie, aku ingin sekali melihatmu bisa melihat lagi. Suatu saat nanti akan ku berikan kedua mataku ini untukmu”
            Dan ia memang memberikannya padaku dengan cara yang tragis. Ia meninggal akibat kecelakaan lalu lintas. Tanpa terasa aku menangis. Jinki melihatku meneteskan airmata, menhampiriku dan bertanya padaku,
            “chagiya, waeyo?”
            Aku menggeleng dan mengusap air mataku,
            “anniyo, aku hanya teringat pada Yoon ah”
            Jinki memelukku. Aku masih tetap menangis dipelukannya dan mengusap air mataku lembut
            “ mau jalan-jalan?”
            Aku mengangguk

            Menghirup udara segar sangat menyenangkan. Jinki memapahku disepanjang perjalanan. Walaupun sebenarnya aku masih bisa melihat sedikit, tapi keadaan taman dirumah sakit cukup ramai, sehingga bisa saja tanpa sengaja aku menabrak salah satu dari mereka. Dan disinilah kami, duduk ditengah-tengah taman yang luas.
            Semilir angin yang sejuk, membuatku ingin bersandar di bahu Jinki. Tapi sebelum aku melakukannya, Jinki lebih dulu menarik kepalaku lembut untuk bersandar dibahunya.
            “apa yang kau lakukan jika sudah bisa melihat lagi?” tanyanya
            “melihat dunia lagi, aku ingin tahu bagaimana Seoul sekarang”
            “kau tidak ingin melihatku?” godanya
            Aku mendongak, tersenyum kecil “aku masih bisa melihatmu” aku mengarahkan kepalanya pelan tepat dibawah sinar matahari,
            “matamu, hidungmu, bibirmu, rambutmu... astaga Jinki kau mengecat rambutmu lagi?”
            Jinki tertawa sambil mngusap-usap rambutku “dasar kau ini”
            “lalu bagaimana denganmu, apa yang kau lakukan jika aku bisa melihat lagi?” tanyaku
            Jinki tersentak, “aku akan... menikahmu”
            Aku kaget, seulas senyum nampak jelas dibawahnya. Nada ketulusan yang amat sangat terdengar dari mulutnya. Aku hampir tidak bisa berkata-kata lagi. Aku memeluknya.
            “Chagiya..... sarang.....” aku melanjutkannya
            Tiba-tiba kepalaku pusing dan..... BRUUKKK~~ gelap aku tidak ingat apa-apa lagi
            Dingin sekali. Apa ini sudah masuk musim dingin lagi? Dimana aku sekarang?
            Aku mendengar suara derap langkah orang yang bolak  balik. Aku mencoba membuka mataku tapi tidak bisa, rasanya kedua kelopak mataku sangat lengket. Aku mencobanya lagi dan tetap tidak berhasil. Aku meraba-raba daerah sekitar mataku. Mataku diperban? Apa aku sudah dioperasi?
            “sooyoung, kau sudah bangun?” tanya ibuku memastikan.
            “umma.... dimana aku? Kenapa aku diperban? Apa aku sudah dioperasi?”
            Tidak kudengar suara apapun. Mendaddak semua sunyi. Aku tidak tahu suara siapa saja yang ada di ruangan ini, tapi mendadak aku tidak mendengar derap-derap langkah yang sesungguhnya cukup berisik itu. Mereka seperti menghilang.
            “umma?” panggilku lagi
            “ne....”jawabnya serak
            “umma, kau menangis?”
            “anniyo”
            Mendadak aku mendengar lagi derap-derap langkah orang-orang yang berisik. Salah satu dari mereka memberi perintah kepada yang lain. Aku hanya bisa berbaring diam diatas tempat tidur. Seseorang berkata “buka perbannya!”
            Seseorang mendekat dan muleai melepas satu persatu perban dimataku sampai selesai. Aku tidak sabar ingin membuka lagi mataku. Aku mencobanya, lengket, aku mencobanya lagi, terbuka! Tapi....semua gelap. Sama saja seperti saat diperban. Ada apa ini?
            “umma....” rengekku
            “kenapa masih gelap?” tambahku
            Aku mendengar suara umma seperti tercekik. Seseorang yang mungkin adalah seorang dokter menghampiriku.
            “maafkan kami Park Sooyoung agasshi... ketika kau pingsan kami telah berusaha sekuat tenaga untuk mengembalikan penglihatanmu.. dan sayangnya kami gagal” dokter itu terdengar sangat menyesal.
            Aku tercekat, “lalu... bagaimana transplantasiku? Bagaimana!” aku berteriak pada dokter itu. Amarahku mencapai puncaknya. Setelah bertahun-tahun aku dengan sabar menanti semua ini. Tapi hanya berakhir dengan KEGAGALAN! Aku menangis, aku memukul apa saja yang ada di sampingku. Umma berusaha menenangkanku tapi aku tak menggubrisnya. Aku terlampaui kecewa, amat kecewa.
            “maafkan kami, pihak pendonor tiba-tiba membatalkan semua... kami amat menyesal Park Sooyoung agasshi” dokter itupun pergi.
            Aku hanya menangis. Dan itu membuat umma ikut menangis. Ottokhae? Aku tak akan bisa melihat lagi.... Aku takkan melihat umma, appa, teman-temanku.... dan Jinki. Itu yang sangat menyakitkan.
            Aku berteriak, marah, menangis tersedu-sedu, dan saat aku bicara ingin mati, seseorang memelukku dengan erat dan ikut menangis. Aku meronta, berontak, tak ingin dikasihi oleh siapapun saat ini. Tapi aku tak peduli. Aku terus memukulnya, memakinya, berteriak-teriak padanya, mencakarnya, tapi orang itu justru mendekapku lebih erat.
            Dan ketika tenagaku habis dan mulai pasrah, aku hanya bisa menangis tanpa suara. Aku bersimpuh di dadanya mencoba meredam rasa kecewaku. Dan ketika aku  menunduk, seseorang membisikan sesuatu di telingaku.
            “mianhae chagiya....aku tidak dapat berbuat apa-apa untukmu” bisiknya disela-sela tangisku
            Begitu tahu siapa sebenarnya orang yang tadi memelukku, aku berhenti meronta dan menangis. Aku meraba-raba wajahnya hingga ke leher. Lekuk-lekuk wajahnya, pelukannya yang hangat...Jinki... mianhae

            Dua Bulan Kemudian~
            “Hei, awas...pelan-pelan naik tangganya” tuntun Jinki
            Aku menggerutu, “sudahlah, hanya tangga kecil....aku masih  bisa menaikinya dengan bantuan tongkatku”
            Aku melepaskan pegangan tangan Jinki dan nekat manaiki anak tangga pendek didepan toko. Dengan santai akupun melangkahkan kaki kananku. Hap! Berhasil. Aku merabanya dengan tongkat lagi dan mulai melangkah, tapi tiba-tiba
            “aauuuwww....”
            Aku terpeleset. Tongkat terlepas dan aku kehilangan keseimbangan. Aku hampir jatuh ketika Jinki akhirnya menahan punggungku. Fuih...tepat waktu.
            “sudah kubilangkan....kau ini” tegurnya sambil berusaha membantuku berdiri.
            Aku hanya meringis, “mianhae Jinki”
            “Sudahlah, sini kugendong”
            Tanpa persetujuanku ia menaikkanku ke punggungnya dan kami berjalan memasuki toko. Suasana toko cukup hangat dan aku melepaskan topiku. Aku bertanya-tanya dimana sebenarnya aku berada.
            “dimana ini? Kau mau beli apa?” tanyaku pada Jinki
            Jinki mendudukanku disofa, “tenang chagiya...tunggu disini” ujarnya.
            Aku menurut saja dan diam ditempat. Tak lama kemudian ia datang dan menuntunku kesebuah ruangan kecil. Ia meninggalkanku disana beserta dengan dua orang yeoja asing yang sedang membujukku untuk mencoba sebuah pakaian. Bukan pakaian, tapi sebuah gaun.
            Karna aku buta, aku hanya menurut ketika dua orang yeoja itu mendandaniku dan mengenakanku sebuah gaun. Walaupun agak risih aku mencoba untuk tetap santai dan tenang. Setelah selesai, mereka menyuruhku berbalik dan....Sreeekkk..... tirai dibuka.
            Aku tak tau harus menghadap kearah mana. Aku berusaha mencari-cari suara Jinki tapi sama sekali tidak terdengar.
            “Jinki........” panggilku
            “Sooyoung.......kau.....” nadanya terputus
            “neomu yeppeo....” lanjutnya takjub
            “mwo?” tanyaku heran mendengar tanggapannya
            “kau tahu apa yang sedang kau kenakan sekarang?” lanjutnya. Aku menggeleng
            “sebuah gaun pengantin”
            Gaun pengantin??? Aku ternganga mendengarnya
            “Jinki kau...untuk apa kau membelikannya untukku?” tanyaku
            “untuk apa lagi?” tanyanya balik
            “tentu saja menikahimu!” serunya
            Aku diam, berusaha mencerna kata-katanya. “tidak mungkin...kau pasti bohong”
            “untuk apa aku bohong?”
            “akukan.........aku BUTA Jinki!” suaraku terdengar serak
            Jinki menghampiriku dan mengelus rambutku,
            “Chagiya....aku sama sekali tidak peduli....yang terpenting adalah, aku jatuh cinta padamu........sejak pertama kali aku bertemu denganmu, sampai detik ini...... aku masih merasakan hal yang sama, jantungku masih berdetak kencang ketika aku melihatmu” ucapnya lembut.
            Aku sangat terharu, tak terasa air mataku menetes,
            “tapi aku takkan bisa melihatmu Jinki.......... itu menyakitkan”
            “omong kosong.............bukankah kau sudah pernah bilang kau masih bisa melihatku? Dan kau tau dimana itu?” ia menarik napas dan menyentuh dadaku,
            “disini, tepat disini. Dijantungmu”
            Jantungku seperti diledakkan dengan kembang api, aku sangat senang...bahagia, dunia serasa milik berdua (Plak!! Author memecah suasana..........kaboooorrr!!).
            Aku memeluknya erat-erat. Hangat, satu hal yang membuatku sangat menyukai pelukannya.
            “Saranghae Jinki”
            “nado Saranghae Sooyoung”
            Jinki menyematkan sebuah cincin dijariki dan membisikkan sesuatu ditelingaku
            “aku akan menikahimu, berjanjilah padaku kau juga akan begitu”
            Ia menciumku lembut. Ciuman hangat di musim dingin

BUBAR!!!!!

jelekkah?? mianhae...... jangan lupa RCL ya!!!