Tuesday, November 27, 2012

You're The Past and Future (Part 1)


You’re the Past and Future
Main cast             : Cho Kyuhyun
                            Kim SaeHyun (You)
Support cast       : Choi Minho
                            Kim Hyun Joong
                            Kim Kyu Jong
Length                  : Continue
Genre                   : Friendship, Family
Rating                   : PG-13
Annyeong~ Kali ini author kembali dengan FF chapter, tumben banget lhoh author bikin FF chapter. Bukan karena author suka yang one shot. Tapi karena malas mengetik saja, karena ini FF ke-2 author hehe^^ Namanya saja author amatiran…
Author minta maaf bila ada kesamaan baik cerita maupun alur cerita. Karena ini merupakan hasil pemikiran author sendiri. Don’t Bashing! Harap tinggalkan jejak. Kritik sarannya author tunggu yaa…
FF ini udah author posting di blog author rieshaberry.wordpress.com
Happy reading!!
-------------

“Hahaha…” suara seorang yeoja kecil membahana di seluruh ruangan.
“Hei…kau, jangan lari lagi! Akh… aku lelah” suara namja tak kalah kencangnya.
“Mwo? Kau lelah? Sungguh tak bisa dipercaya, seorang Cho Kyuhyun merasa lelah setelah berlari 5 menit! Omoo~~ aku kira kau punya bakat untuk menjadi olahragawan, ternyata kau hanya bisa bermain saja? Cih…” Ejek yeoja kecil itu.
“Yak, jangan mengejekku jika kau belum paham mengenaiku. Walaupun sahabat karibku seorang PSP, tidak mempunyai bakat tuk menjadi olahragawan, tapi aku punya wajah yang amat tampan. Iya kan?” seru namja yang diketahui bernama Cho Kyuhyun.
“Huh…aku kira narsismu itu sudah hilang, ternyata… Whaaa~~!!” omongannya terpotong karena Kyuhyun mengejarnya lagi.
“Sudah-sudah… kalian ini apa tidak capek?” tiba-tiba eomma dari yeoja itu menyuruh mereka untuk berhenti kejar-kejaran.
“Eommaa~~ Help me!!” teriak yeoja kecil itu dengan suara melengkingnya.
“Jangan sok memakai Bahasa Inggris, hah!”  seru Kyuhyun lagi.
“Kyu, sudahlah…” Kini Eomma Kyuhyun itu juga mulai menyuruh mereka untuk berhenti bermain. Akhirnya mereka pun berhenti karena sama-sama kelelahan.
Mereka berempat sekarang berada di ruang tamu keluarga Cho pemilik perusahaan terkenal di seluruh Korea. Sedangkan yang sekarang sedang duduk berada di depan keluarga Cho adalah keluarga Kim, pemilik perusahan yang tidak kalah terkenal di Korea, tetapi perusahaan yang sedang ada di Korea itu merupakan cabang dari perusahaan yang berpusat di Amerika. Keluarga Kim sendiri juga tak kalah terkenalnya di kalangan masyarakat, pemiliknya memiliki 3 orang anak. Salah satunya Kim Saehyun yang termuda dari kedua kakaknya.
Saat ini mereka berempat sedang membicarakan tentang keluarga mereka masing-masing, hingga akhirnya di siang hari keluarga Kim memutuskan untuk pulang.
“Cho ahjumma, gamsahamnida” ucap Saehyun sambil membungkukkan badannya.
“Ne, Saehyunie, kapan-kapan main kesini lagi ya” jawab Cho ahjumma dengan lembut.
“Kau tidak ucapkan salam pada Kyuhyun, hemm?” tanya Kim Ahjumma.
“Uhh… eomma, kenapa harus? Kyu~ go…mawoyo!” ucap Saehyun dengan ketusnya.
“Hemm…” jawab Kyuhyun seenaknya, tapi hal tersebut langsung di ubahnya melihat eommanya yang sudah menatapnya dengan tatapan yang ‘menyeramkan’ (?)
“Ne,ne,cheonmanayo” ucap anak laki-laki tersebut dengan menekankan kata-katanya.
“Kalau begitu kami pulang dulu, Cho agashi, anyeong~”
“Annyeong” jawab eomma anak laki-laki itu.
_-_-_o0o_-_-_
3 hari kemudian…
“Chagi… kita harus ke Amerika besok” ucap Nyonya Kim kepada anak-anaknya.
“Untuk apa eomma?” jawab anak laki-lakinya, yang tidak lain tidak bukan adalah kakak pertama dari Saehyun.
“Eomma dan Appa harus menetap disana, jadi kalian juga harus ikut dengan eomma, tidak mungkin eomma meninggalkan kalian disini sendiri” perintah Nyonya Kim.
“Tapi eomma, disini aku punya banyak teman” jawab anak laki-laki lainnya.
“Tidak ada tapi-tapian, besok kita harus bersiap terbang ke Amerika. Kalian juga akan bersekolah disana!” perintah Nyonya Kim lagi.
Mau tidak mau mereka bertiga menuruti perintah Nyonya Kim untuk pindah ke Amerika, tempat appa mereka bekerja.
Pagi harinya, mereka berangkat ke Amerika. Setelah kepergian keluarga Kim ke Amerika, keluarga Cho menerima kabar bahwa Keluarga Kim pindah ke Amerika. Hal ini membuat Nyonya Cho kaget, mengapa keluarga Kim tidak memberi kabar terlebih dahulu. Hal itu juga dirasakan dengan Kyuhyun, mengapa Saehyun, gadis kecil yang diam-diam ia sukai itu pindah tanpa memberi ucapan selamat tinggal padanya.
‘kenapa kau meninggalkanku tanpa memberiku ucapan selamat tinggal? Apa kau memang tidak menyukaiku? Atau aku yang terlalu jahat padamu, sehingga kau tidak memberitahuku kepindahanmu? Aku menyesal karena selalu mengabaikanmu daripada PSPku. Mian Saehyun-ah… padahal aku ingin mengatakan ini padamu, sebenarnya aku…aku… menyukaimu’ Kyuhyun berbicara dalam hatinya sambil menangis di kamarnya.
_-_oOo_--_
6 tahun kemudian…
#Saehyun POV#
Hmm… this air so cool, you know? Because today is summer, I like this. Anyway, I actually miss my city, Seoul, South Korea. The place where I was born. I’m miss him too. I always think how his face, his hobby, and his characteristic. Is he still same like 6 years ago? Akh… I think not. Maybe.
Hmm… sorry, If I’m speak in English. I have already 6 years in here, so I have become accustomed with it. Well, I will tell you about me, of course with language which can you understand.
Kenalkan namaku Saehyun, Kim Saehyun umurku 14 tahun. Aku bersekolah di New York Junior High School dan sebentar lagi aku akan lulus. Penasaran denganku, apakah aku akan melanjutkan sekolahku di New Yeork ini. Jawabannya salah. Aku dan oppa-oppaku sudah memutuskan untuk melanjutkan sekolah kami di Seoul.
Kami bertiga sudah memutuskan hal ini dengan matang, bahkan sudah kami pikirkan kapan kami akan kembali ke Korea, yaitu setelah aku lulus dari sekolah ini.
Saat ini aku berada di sebuah taman, tempatnya sangat menarik. Banyak orang-orang yang kebanyakan adalah sepasang kekasih. Hei… jangan melihatku seperti itu, bukannya aku ingin seperti pasangan-pasangan itu. Namun, saat ini aku masih merindukannya, Kyuhyun, namja yang dulu paling ingin ku alihkan pandangannya dari benda hitam sialan, PSP.
Mungkin saat ini dia sudah memiliki yeoja. Kenapa aku bilang mungkin? Ku akui 6 tahun lalu, dia memang tampan. Tapi tidak tahu sekarang, mungkin wajahnya berubah jadi bebek ‘wek wek’ wkwkwk… Sudahlah, sekarang sudah semakin sore, aku harus pulang. 3 hari lagi pengumuman kelulusanku, aku harap aku bisa lulus dan mendapat nilai yang memuaskan. Amieenn… *Author : LULUS UAN SMA 2013, AMIN!!* :D
Tiba di rumah…
“Eomma, aku harap eomma mengijinkan kami untuk pindah ke Seoul” Bukankah itu suara Hyun Joong oppa?
“Mengapa kalian pindah ke Korea, kalian sudah mempunyai masa depan disini” jawab eomma dengan hati-hati.
“Eomma dan Appa salah, masa depan kami bukan disini, tapi di kota kami dilahirkan. Aku, Kyu, dan Saehyun sudah sepakat akan pindah ke Korea setelah Saehyun menyelesaikan sekolahnya. Kami mohon appa dan eomma mengijinkan kami pindah” oppa berkata dengan memohon. Aku yakin eomma dan appa masih berat untuk mengijinkan kami pindah, aku harus mencari Kyu oppa untuk membantu Joong oppa.
Kulihat Kyu oppa turun dari mobil temannya, “Oppa! Kebetulan oppa disini” seruku.
“What are you doing, hyunie?” tanya Kyu oppa dengan menggodaku >,<”
“Aiisshh… bukan saatnya bermain, Kajja bantu Joong oppa” aku menarik tangannya.
“Bantu apa?” tanyanya
“Appa…eomma…aku mohon ijinkan kami pindah” terdengar suara Joong oppa dari dalam membuat Kyu oppa mengerutkan dahinya.
“Apa hyung sedang membicarakan hal itu sekarang?” tanyanya, aku pun hanya bisa mengangguk.
“Kajja, kita bantu dia, mungkin jika kiata bicara pada appa dan eomma, mungkin kita boleh diijinkan pindah ke Seoul” aku menarik tangannya masuk ke dalam rumah.
“Appa, Eomma! Kami mohon ijinkan kami. Ini bukan paksaan, tapi ini kemauan kami bertiga. Aku dan hyung ingin melanjutkan study kami di Seoul. Saehyun pun juga” Aku turut mengangguk. Kulihat eomma masih menggelengkan kepalanya, berbeda dengan appa, sepertinya appa setuju.
“Appa~~” rengekku pada appa, mungkin dengan cara ini appa bisa menijinkan kami.
“Appa tidak mau memaksa kalian, tapi itu semua terserah pada eomma kalian” appa setuju, tapi eomma? Kulihat Kyu oppa memberi isyarat ‘keluarkan aegyomu sekarang’ baiklah, aku akan mengeluarkan jurusku untuk eomma.
“Eomma~~ Boleh ya… Eomma~~” Kulihat eomma masih dalam ekspresi yang sama, aigoo… aku sekarang harus apa?
“Eomma~~ Pleaseee…”
“Hentikan Saehyun, kalau kau masih begini, eomma akan semakin menentang kalian” Omooo~~ eotteokhae??
“Eomma… aku mohon, boleh yahh. Ayolah eomma, eomma tidak kasihan sama kami? Eomma~~ Please please pleaseee… aku janji, aku ga nakal eomma. Kyu oppa dan Joong oppa juga akan menjagaku dengan baik. Yahh.. boleh yahh… Eomma~~” aku merengek sekuat tenagaku, aku tak peduli bagaimana cara pandang appa, oppa, dan eommaku, yang terpenting eomma setuju.
“Bagaimana kalau eomma tidak setuju?” eomma harus setuju. Aku kan sudah rindu berat dengan Seoul.
“Eomma harus setuju, demi kebaikan anak-anakmu. Ayolah eomma~~ Haaa…” rengekku lagi. Aku pasti terlihat seperti anak kecil berumur 5 tahun. Apa peduliku?
“Arra, arra, eomma setuju..” yess, eomma setuju! Sudah kubilang, kan? Aegyoku pasti berhasil. Siapa dulu, Saehyun!
“Tapi ada syaratnya!” Mwoo?? Arra, arra, aku akan mematuhinya eomma J
“MWORAGO???” teriak kami bertiga.
“Kalian berdua harus menjaga adik kalian dengan baik, awas saja jika eomma tau kalau Saehyun berpacaran dengan orang yang tidak baik” Omoo~~ kenapa harus pacar sich… >,<” eommaa~ aku belum ingin punya pacar!!
“Dan kau Saehyun, kau harus pantau oppa-oppamu dengan baik, jika oppamu terlihat menggandeng yeoja yang kau tidak sukai, kau harus lapor pada eomma!”
“kenapa harus pemikiranku eomma?” tanyaku
“Karena eomma tau, kau bisa menilai hati seseorang” Ah..eomma bisa aja. -,-“
“Ne, arraseo, eomma, kalau pun ada banyak yeoja yang mendekatiku, aku akan minta saehyun yang memilihkannya untukku. Tenang saja” kini Kyu oppa ikut bicara.
“Satu lagi, Kalian akan melanjutkan sekolah pilihan appa” Kini appa juga angkat bicara.
“Ne, appa!” Jawab kami bertiga.
#Saehyun POV end#

#Author POV#
Akhirnya tujuan mereka disetujui dengan Tuan dan Nyonya Kim untuk pindah ke Seoul. 3 hari kemudian mereka berangkat menuju ke Seoul. Mereka juga mengucapkan ucapan perpisahan, karena mereka di Seoul akan hidup bertiga tanpa Tuan dan Nyonya Kim.
Sementara itu, di lain sisi, Kyuhyun yang merupakan teman kecil Saehyun juga merayakan kelulusannya bersama dengan teman-temannya. Kalau dilihat-lihat Kyuhyun sama seperti teman-temannya yang playboy, tapi dalam hatinya ia masih ingin bertemu dengan Saehyun kecilnya dulu. Itulah mengapa ia jadi seorang yang playboy, ia selalu didekati wanita yang berbeda-beda tapi Kyuhyun hanya mendekatinya bukan menjadikannya pacarnya, itu karena Kyuhyun menganggap bahwa Saehyun adalah pacar pertamanya yang masih ingin ia miliki sampai saat ini.

#Kyuhyun POV#
Aku lulus? Aku sungguh tidak percaya, kalau aku lulus dengan nilai tertinggi, akh.. tapi ini sudah biasa, aku memang sudah ditakdirkan memiliki wajah yang tampan dan otak yang mulus. Ck! Cho Kyuhyun yang tampan, yang selalu dipuja para wanita, yang pintar ini ternyata babo juga. Kenapa aku bisa bilang seperti itu? Karena aku masih menginginkannya kembali, kembali kesini, kembali kehadapanku.
Aku tak pernah menganggap serius hubunganku dengan beberapa wanita, karena di otakku masih tersimpan wajahnya. Tapi ngomong-ngomong bagaimana dengan kabarnya ya? Sudah 6 tahun aku tidak mendengar kabarnya, bahkan wajahnya. Aku ingin dia disini, bersamaku, aku ingin mejahilinya lagi, mencampakkannya dengan PSPku. Mungkin itu takkan terjadi, sudahlah Kyuhyun, lupakanlah dia.
“Yak, kenapa kau melamun terus. Ayo kita rayakan kelulusan kita!”
“Emm…aku harus pulang, eommaku pasti akan mengamuk, apalagi nunaku” sanggahku.
“Omo, ternyata Kyuhyun takut dengan eomma dan nunanya” ucap salah satu dari mereka.
“Ne, itu benar. Aku tidak ingin mengecewakan orang tuaku, memangnya seorang playboy tidak boleh mematuhi orang tua?” sungguh hari ini aku sedang ingin menyendiri. Aku sedang Bad Mood, aku sudah tidak peduli dengan siapa pun.
“Ck! Arra,arra,pulanglah kami akan berpesta dulu”
“Aku pulang dulu”
“Kyu, satu lagi, Chukkaehaeyo!” seru temanku
“Ne, bye” aku memutuskan untuk tidak pulang ke rumah. Aku ingin pergi ke rumah Minho untuk menenangkan diri. Semoga saja dengan adanya game, hatiku bisa pulih lagi.
“Yeoboseyo, nuna. Bilang pada eomma, aku akan menginap di rumah Minho” perintahku pada Ahra nuna
“Kau ini! Bicara sendiri sama eomma, Eomma!! Ada setan yang mau bicara!” Aisshh… dia ini, bisakah tidak berteriak tepat ditelpon, membuatku tuli saja. Dan apa katanya? Setan?
“Yak!! Siapa yang setan??” teriakku tidak ingin kalah
“Kau” Mwo? Aisshh…
“Kalau aku setan berarti kau Nunanya setan!” haha…
“Aku malaikat, bukan nunanya setan” Ck!
“Sejak kapan kau berubah jadi malaikat, hah! Sifat saja tidak ada yang pantas disamakan dengan malaikat. Kalau pun ada, kau pantasnya dipanggil malaikat pencabut nyawa!” Hah… berani denganku rupanya.
“Enak saja! Kau saja yang tidak tau, aku ini di kampus dijuluki angels, malaikat baik hati nan cantik. Namun, sayang mengapa aku memiliki dongsaeng yang sifatnya seperti setan?” yak! Cukup sudah, ini namanya penghinaan!
“Yak!!!” teriakku. “Huh… peri apa kau ini, selalu jahat dengan dongsaengnya, sebenarnya yang paling muda siapa? Aku apa kau? Mengapa kau yang selalu di manjakan?”
“Sudah jelas yang paling muda aku, setan tua!” Mwo? Setan tua katanya!!!
“Yak!!!”
“Omoo~~ aku tidak tuli Kyunie, kau ini kenapa teriak-teriak seperti itu” Omoo~ sekarang ini eomma, dia benar-benar…
“Ani, gwenchana! Eomma, aku akan menginap di tempat Minho”
“Ne,arra, kau boleh menginap disana. Tapi ingat jangan merepotkan Minho, arra?” nasihat lagi.. -,-‘
“Arra” piipp… Aku butuh game sekarang! Game! Game!! Gara-gara nuna, kepalaku hampir pecah! Arrrgghhh…
Sesampainya di rumah Minho…
“Hyung, kenapa kau ingin menginap di rumahku? Apa gara-gara nunamu lagi?” tanya Minho kepadaku setelah aku sampai di kamarnya.
“Salah satunya itu, tapi yang sebenarnya bukan itu” jawabku seadanya
“Kali ini apalagi? Apa jangan-jangan mengenai Kim Saehyunmu itu lagi” Sejak kapan dia mendadak pintar menebak pikiran orang lain? Kenapa lagi denganku, kenapa aku tidak bisa menyanggah pertanyaan Minho?
“Jadi benar ya, hyung ini, kukira kau sudah melupakannya” Mwo? Mana mungkin aku bisa melupakannya.
“Aku tidak bisa melupakannya, aku selalu memikirkannya. Bagaimana keadaannya, kabarnya, dan wajahnya sekarang. Sebenarnya aku sudah mencoba melupakannya, tapi tanpa sengaja aku selalu mengingatnya lagi” ceritaku dengan Minho
“Mungkin dia sekarang sudah lulus Junior High School, sama sepertimu” aku hanya mengangguk
“Aku juga kadang-kadang bermimpi tentang seorang wanita yang tidak aku kenali” ceritaku lagi
“Jinja? Nugu?” tanya Minho dengan antusias. Aku kan tidak tahu Minho!
“Sudah kubilang aku tidak kenal, mana kutahu siapa dia?”
“Aikh… Kalau begitu, apa dia cantik? Ceritakan ciri-cirinya, mungkin aku kenal”
“Dia cantik, manis, rambutnya panjang, matanya bulat, hidungnya mancung, bibirnya…” belum sempat meneruskan, perkataanku dipotong olehnya.
“Bibirnya bagaimana hyung?!” tanyanya dengan sangat antusias, aigoo~~ apa yang anak ini pikirkan selama ini? Apa dia hanya melihat wanita dari bibirnya?
“Bibirnya seksi…” jawabku lirih
“Omoo~~ pasti dia sangat cantik dan perfect. Tapi aku tidak punya teman seperti yang hyung ceritakan padaku” lalu siapa yang sering masuk ke mimpiku itu? Ini aneh…
“Mungkin dia masa depanmu hyung” ucapnya seraya berpikir. Masa depanku? Apa benar?
“Jinjaa?? Bagaimana bisa kau menganalisis hal seperti itu?” tanyaku padanya.
“Pernah ada orang bilang seperti itu hyung. Kita bermimpi tentang seseorang yang kita tidak kenali, berarti itu masa depan kita, tapi bila kita bermimpi dengan orang yang paling kita sayangi tetapi orang itu sudah tidak ada didekatmu berarti itu masa lalumu.” Dia menjelaskan padaku panjang lebar.
“Apa mungkin dia masa depanku?” tanyaku pada diriku sendiri
“Hyung enak yah, sudah tahu bagaimana masa depan hyung sendiri. Sedangkan aku, aku belum tahu, masa depanku dengan wanita seperti apa saja aku belum tahu”
“Tapi aku masih belum bisa mempercayainya, Minho-ya”
“Itu terserah padamu hyung. Kau berhak percaya atau tidak pada pernyataan seperti itu. Begini saja, kalau hyung bertemu dengannya langsung, hyung bisa memberikannya padaku jika hyung tak mau dengannya. Karena dia tipeku juga hyung” Enak saja, mana mungkin aku mau memberikan padanya, aku saja belum pernah bertemu dengannya. Kalaupun aku bertemu dengannya, aku tidak akan memberikannya padamu.
“Shiireeoo!!!” tolakku mentah-mentah
“Aisshh… Hyung ini, tidak pernah mau mengalah padaku”
“Memang. Kalau itu berkaitan dengan uang, aku membolehkannya. Masalah perempuan, sorry aku tidak bisa”
“Yah…hyung. Kau ini, susah mencari yang seperti itu hyung. Walaupun aku disebut idol di sekolah, banyak perempuan yang menyukaiku, tapi aku belum pernah menemukan perempuan seperti tipeku itu” Memangnya berbeda denganmu, aku juga sama denganmu Minho!
“Aku juga sama sepertimu! Memangnya kau saja yang punya tipe seperti itu” kulihat Minho menghembuskan nafas beratnya, itu pertanda bahwa pernyataanku tidak bisa diganggu gugat oleh siapa pun (?).
 “Sudahlah, tujuanku kesini untuk bermain game. Kenapa jadi curhat dan rebutan wanita seperti ini” seruku. Daritadi aku sudah menginginkan game, otakku harus diisi dengan game kalau tidak, kupastikan otakku akan dipenuhi oleh Kim Saehyun dan wanita misterius itu.
“Aisshh… arra,arra! Tapi jangan malam-malam, kau mau menghabiskan uangku sebelum gajian?” perintahnya padaku
“Sejak kapan kau bekerja?” tanyaku langsung
“Gaji dari eomma appaku setiap bulan” jawabnya dengan meringis. Aku hanya bisa mendengus melihat tingkahnya. Aku tahu, Minho bersekolah di Seoul dengan menyewa apartment karena rumahnya sangat jauh dari Seoul, eomma dan appanya selalu memberikannya uang, baik sangu maupun untuk membayar biaya tempat tinggalnya setiap bulan.
#Kyuhyun POV end#

#Saehyun POV#
Yah… kami sekarang sudah tiba di bandara Incheon. Kurasakan hembusan angin yang menerpa wajahku, kuhirup udara di sekitar bandara ini. Aku merindukan udara ini. Kulihat oppa-oppaku sedang mengurus barang-barang yang kami bawa tadi.
“Hmm… sudah semua kan, kajja kita pulang ke rumah” ajak Joong oppa sambil membawa kopernya. Bisa kudengar orang-orang yang sedang membicarakan kami. Ada apa ya? Apa kami terlihat seperti artis? Akh…tentu saja, aku kan memang cantik dari sananya. *dari Hong Kong kali* *Plakk…
“Oppa, kau mendengarnya?” tanyaku pada Kyu oppa.
“Dengar apa?” dia bertanya kembali padaku
“Wanita-wanita disini sepertinya sedang membicarakan kita” bisikku pada Kyu oppa
“Membicarakan kita atau aku seorang?” Ikh… pede sekali dia ini.
“Ikh… kepedean”
“Hahaha… Sudahlah biarkan saja mereka membiacarakan ketampanan kami dan kecantikan kau” Aisshh… oppa… Malu deh… arra, oppa aku tahu, aku cantik. Tapi jangan terlalu memujiku, bagaimana kalau aku terbang? (?)
“Kajja, kita pulang dengan taksi” seru Joong oppa. Taksi yang kami naiki pun melesat pergi meninggalkan salah satu bandara terbagus di dunia ini.
#Saehyun POV end#

#Author POV#
Akhirnya Saehyun dan oppanya kembali ke rumah yang mereka tempati dulu. Saehyun berniat untuk jalan-jalan bersama oppa-oppanya keesokan harinya, untuk menikmati kota Seoul yang sudah lama mereka tinggalkan. Mereka pun juga akan mengurus sekolah mereka minggu depan, tepat sehari sebelum hari pertama mereka masuk ke sekolah yang mereka tempati nanti.
Di sisi lain, Kyuhyun sedang bermain dengan Minho di rumah Minho. Mereka bermain dengan baik (?), apalagi Kyuhyun yang sudah mengalahkan Minho hampir 10 kali. Sangking semangatnya sampai-sampai dia lupa dengan janjinya pada Minho agar tidak bermain sampai larut malam. -,-“
Kyuhyun juga sudah memutuskan untuk pergi ke rumah keluarga Kim dulu, hanya untuk mengenang semuanya. Kyuhyun mengira, mungkin akan lebih baik jika ia bisa melupakan kenangan itu. Kyuhyun sudah bertekad untuk melupakan Saehyun dan semua kenangan bersama dengannya.
#Author POV end#

Akankah Kyuhyun dan Saehyun bertemu keesokan harinya?
TBC

------
Akh... selesai juga part 1 -,-" fiuuhh... Eotte? Bagus ga? Author tunggu komentar kalian semua :D
-Author Saehyun-


Thursday, November 15, 2012

I Found My Love In Seoul [Part 1]

I Found My Love In Seoul


Author : hys2918
Genre : Romance
Cast :
- Choi Henry
- Sullindah
- and Other cast

Chapter 1
Sulli memasuki kamarnya dengan gembira karna ia diperbolehkan kuliah di tempat yang ia inginkan sejak dulu. Tetapi Ayahnya mempunyai syarat untuk itu. Dia harus mendapatkan beasiswa di sekolah yang bagus. Itu bukan masalah besar untuknya. Karna Sulli sudah berprestasi di sekolah sejak dari kelas satu. Krek…suara pintu kama terbuka dan memperlihatkan ibu Sulli.
Sulli cepatlah tidur!”
“iya Bu aku akan segera tidur” jawab Sulli sambil menarik selimutnya dan beranjak tidur.
06.30 a.m WIB
Sulli sudah bersiap berangkat kesekolah kali ini ia tidak diantar oleh ayahnya. Sulli berangkat sekolah menggunakan sepeda lagipula jarak rumah Sulli ke sekolah hanya beberapa blok. Ia mengayuh sepedanya dengan senang. Sampailah ia di tempat yang bernama International High School. Sepedanya di parkirkan di parkiran sepeda.
Sifatnya yang bersahabat dan ramah ia banyak disukai oleh teman temannya di sekolah. Itu sebabnya Sulli selalu membalas sapaan orang. Sulli memasuki kelasnya pas waktu bel masuk. Dan mereka semua yang ada di kelas tadi memulai pelajaran. Bel tanda istirahat berbunyi semua murid melepas penat setelah menerima ilmu berjam-jam dari guru. Mereka kekantin maupun ketempat yang enak untuk berbincang bersama. Kali ini Sulli memilih untuk ke kantin bersama teman-temannya.
“Sulli apa kau jadi ke korea untuk melanjutkan sekolah?” ucap seorang teman dekat Sulli.
“kata ayahku aku boleh kesana tapi harus dengan beasiswa.” Jawab Sulli dengan mulutnya yang penuh dengan makanan.
“bagus dong. Kau kan pintar jadi mudah untuk dapat beasiswa.” Sahut teman satunya.
“tidak juga akukan juga harus belajar bahasa sana.” 
“iya juga ya. Hahahaha.”
Akhirnya jam sekolah usai. Semua berhambur keluar sekolah untuk pulang kerumah masing-masing. Kecuali Sulli dan teman-temannya. Mereka janjian untuk belajar bersama di rumah Sulli. Mereka kerumah Sulli dengan berjalan kaki. Teman – temannya berjalan kaki sedangkan Sulli berjalan sambil menuntun sepedanya. Setelah beberapa menit. Mereka sampai di kediaman Sulli. Rumah sederhana tampak dari depan namun mewah didalamnya. Sulli mempersilahkan teman-temannya masuk kekamarnya. Ibunya pun mengijinkan hal tersebut. Temannya pun tidak kaget kalau kamarnya penuh dengan barang berbau Korea. Dari mulai poster, kalender, buku biografi idolanya, majalah sampai cat tembokpun sudah tidak kelihatan sekarang. Mereka belajar dengan serius.
“soalnya ngajak berantem nih” teriak seorang teman.
“jangan teriak teriak kenapa? Kita juga lagi susah nyari jawaban nih.”
“ada apa sih?” tanya Sulli yang baru datang dari super market.
“ini.”Ucap Ayu teman Sulli.
“ohh ini. Ambil saja buku berwarna merah semuanya ada disitu”
“hei kenapa kau tidak bilang pada kami dari tadi” protes semua teman Sulli.
“tidak ada yang bertanya padaku” ucap Sulli cengar cengir sebenarnya ia sudah tau dari tadi.
Mereka belajar bersama setiap mereka punya waktu. Tak terasa lusa sudah ujian kelulusan. Sulli sudah mendaftar ke universitas yang ada di Negeri Gingseng itu. Karna ia yakin akan lulus besok. Ia sudah di telefon oleh pihak universitas untuk mengikuti ujian beasiswa bulan depan. Hari ini ujian kelulusan di mulai. Semua siswa kelas tiga mengikuti ujian dengan tenang.
Beberapa hari kemudian. . . . . . hari ini hari terakhir mereka melaksanakan ujian. Dan mata pelajaran hari ini yang paling di takuti siswa. Bagaimana tidak ini pelajaran bahasa inggris dimana semuanya harus lulus dimata pelajaran ini. Itulah salah satu peraturan yang ada di sekolah Sulli.
Teman – teman Sulli  gelisah jika tidak lulus dan harus mengulang satu tahun lagi. Begitu juga dengan Sulli walaupun ia anak yang pintar tetap saja ada perasaan takut untuk hal itu. Sulli duduk di bangkunya dan melihat soal – soal yang di diberi oleh guru. Sulli senang dengan soal itu sebab, soalnya hampir 80 % yang dipelajari olehnya dan teman – temannya kemarin sore. Terlihat dirinya dan teman-teman mengerjakan soal dengan cepat dan sepertinya itu hampir semua benar. Ternyata mereka mengumpulkan secara bersama dan itu menimbulkan kecurigaan dari pengawas ujian.
“apa kalian salling mencontek?” pertanyaan itu muncul dari mulut pengawas.
“tidak” kata mereka serempak.
“baiklah kalian boleh keluar sekarang.” Akhirnya inetrogasipun selesai. Dan mereka keluar dari ruangan ujian. Sulli mengedarkan pandangannya di sekitar halaman sekolah. Tidak ada orang satupun kecuali mereka, tukang kebun dan dua orang pengawas yang sedang berkeliling.
“apakah kita boleh pulang sekarang? Aku mengantuk lagi.”
“aissh. . . . . Luna kau itu kerjaannya hanya tidur saja. Tidak ada kegiatan lain apa?"
“ada kok.”
“apa?”
“belajar, sekolah, main dengan kalian. Kurang apa lagi?”
“ah. . . . sudahlah.” Mereka meninggalkan Luna untuk pergi kekantin.
“hei kalian mau kemana? Aku ikut.” Luna berlari mengikuti lainnya. Memang sih teman Sulli yang satu ini tidak nyambung jika di ajak bicara tapi kalau sudah berurusan dengan soal ia tidak bisa diragukan lagi. Sangat cerdas itulah kata yang tepat untuknya. Mereka duduk dikantin dan mulai membicarakan sesuatu seperti biasa.
“mau masuk universitas mana kamu Sul?”
“aku di Universitas Seoul. Kalian?”
“kalau aku di UI ajalah yang dekat hehehe.” Ucap Ayu. Sulli mengarahkan matanya ke Luna.
“apa?”
“hadeh aku bertanya kau mau kuliah dimana?” ucap Sulli yang sudah kesal dengan seikap Luna yang lemot.
“oh. . . . aku di suruh ayahku ke Singapur ikut dengannya sekalian melanjutkan sekolah.”
Begitu juga dengan teman Sulli yang lainnya. Kebanyakan memang melanjutkan keluar negeri. Bell tanda selesai ujian pun berbunyi. Semua siswa keluar dengan muka masam. Setelah beberapa jam menunggu akhirnya pengumuman sudah di tempelkan di papan pengumuman. Kali ini Sulli mendapat peringkat pertama paralel. Dia pun senang dengan hal itu ‘ayah aku berhasil’ ucap Sulli dalam hati. Mereka (Sulli dan sahabatnya) mengambil berkas - berkas yang akan dibawa ke universitas di kantor guru.
“permisi pak”
“oh silahkan masuk dan ini surat – suratnya. Wah nak Sulli kau itu pintar selalu mendapat peringkat atas terus.” Ucap pak guru sambil sedikit tertawa.
“terima kasih banyak pak.”
“teman siapa dulu dong Luna. Hehehe”
“kami permisi pak.”
“iya”

Mereka akhirnya pulang dan membawa kabar gembira kepada keluarga mereka sendiri-sendiri.  Sulli memberi kabar ini pada keluarganya. Sudah beberapa hari ini ia mempersiapkan diri untuk pergi ke Seoul dibantu oleh orang tuanya. Ayahnya mempersiapkan sebuah apartemen utuk Sulli sekalian untuk hadiah juga. Sedangkan ibunya menyiapkan keperluannya disana. Lusa Sulli sudah berangkat kesana sebenarnya masih satu beulan lagi masuk ke universitasnya, tapi apa boleh buat, ia harus mengenal dulu daerah sekitar yang akan di tempatinya.

TBC