Thursday, November 15, 2012

I Found My Love In Seoul [Part 1]

I Found My Love In Seoul


Author : hys2918
Genre : Romance
Cast :
- Choi Henry
- Sullindah
- and Other cast

Chapter 1
Sulli memasuki kamarnya dengan gembira karna ia diperbolehkan kuliah di tempat yang ia inginkan sejak dulu. Tetapi Ayahnya mempunyai syarat untuk itu. Dia harus mendapatkan beasiswa di sekolah yang bagus. Itu bukan masalah besar untuknya. Karna Sulli sudah berprestasi di sekolah sejak dari kelas satu. Krek…suara pintu kama terbuka dan memperlihatkan ibu Sulli.
Sulli cepatlah tidur!”
“iya Bu aku akan segera tidur” jawab Sulli sambil menarik selimutnya dan beranjak tidur.
06.30 a.m WIB
Sulli sudah bersiap berangkat kesekolah kali ini ia tidak diantar oleh ayahnya. Sulli berangkat sekolah menggunakan sepeda lagipula jarak rumah Sulli ke sekolah hanya beberapa blok. Ia mengayuh sepedanya dengan senang. Sampailah ia di tempat yang bernama International High School. Sepedanya di parkirkan di parkiran sepeda.
Sifatnya yang bersahabat dan ramah ia banyak disukai oleh teman temannya di sekolah. Itu sebabnya Sulli selalu membalas sapaan orang. Sulli memasuki kelasnya pas waktu bel masuk. Dan mereka semua yang ada di kelas tadi memulai pelajaran. Bel tanda istirahat berbunyi semua murid melepas penat setelah menerima ilmu berjam-jam dari guru. Mereka kekantin maupun ketempat yang enak untuk berbincang bersama. Kali ini Sulli memilih untuk ke kantin bersama teman-temannya.
“Sulli apa kau jadi ke korea untuk melanjutkan sekolah?” ucap seorang teman dekat Sulli.
“kata ayahku aku boleh kesana tapi harus dengan beasiswa.” Jawab Sulli dengan mulutnya yang penuh dengan makanan.
“bagus dong. Kau kan pintar jadi mudah untuk dapat beasiswa.” Sahut teman satunya.
“tidak juga akukan juga harus belajar bahasa sana.” 
“iya juga ya. Hahahaha.”
Akhirnya jam sekolah usai. Semua berhambur keluar sekolah untuk pulang kerumah masing-masing. Kecuali Sulli dan teman-temannya. Mereka janjian untuk belajar bersama di rumah Sulli. Mereka kerumah Sulli dengan berjalan kaki. Teman – temannya berjalan kaki sedangkan Sulli berjalan sambil menuntun sepedanya. Setelah beberapa menit. Mereka sampai di kediaman Sulli. Rumah sederhana tampak dari depan namun mewah didalamnya. Sulli mempersilahkan teman-temannya masuk kekamarnya. Ibunya pun mengijinkan hal tersebut. Temannya pun tidak kaget kalau kamarnya penuh dengan barang berbau Korea. Dari mulai poster, kalender, buku biografi idolanya, majalah sampai cat tembokpun sudah tidak kelihatan sekarang. Mereka belajar dengan serius.
“soalnya ngajak berantem nih” teriak seorang teman.
“jangan teriak teriak kenapa? Kita juga lagi susah nyari jawaban nih.”
“ada apa sih?” tanya Sulli yang baru datang dari super market.
“ini.”Ucap Ayu teman Sulli.
“ohh ini. Ambil saja buku berwarna merah semuanya ada disitu”
“hei kenapa kau tidak bilang pada kami dari tadi” protes semua teman Sulli.
“tidak ada yang bertanya padaku” ucap Sulli cengar cengir sebenarnya ia sudah tau dari tadi.
Mereka belajar bersama setiap mereka punya waktu. Tak terasa lusa sudah ujian kelulusan. Sulli sudah mendaftar ke universitas yang ada di Negeri Gingseng itu. Karna ia yakin akan lulus besok. Ia sudah di telefon oleh pihak universitas untuk mengikuti ujian beasiswa bulan depan. Hari ini ujian kelulusan di mulai. Semua siswa kelas tiga mengikuti ujian dengan tenang.
Beberapa hari kemudian. . . . . . hari ini hari terakhir mereka melaksanakan ujian. Dan mata pelajaran hari ini yang paling di takuti siswa. Bagaimana tidak ini pelajaran bahasa inggris dimana semuanya harus lulus dimata pelajaran ini. Itulah salah satu peraturan yang ada di sekolah Sulli.
Teman – teman Sulli  gelisah jika tidak lulus dan harus mengulang satu tahun lagi. Begitu juga dengan Sulli walaupun ia anak yang pintar tetap saja ada perasaan takut untuk hal itu. Sulli duduk di bangkunya dan melihat soal – soal yang di diberi oleh guru. Sulli senang dengan soal itu sebab, soalnya hampir 80 % yang dipelajari olehnya dan teman – temannya kemarin sore. Terlihat dirinya dan teman-teman mengerjakan soal dengan cepat dan sepertinya itu hampir semua benar. Ternyata mereka mengumpulkan secara bersama dan itu menimbulkan kecurigaan dari pengawas ujian.
“apa kalian salling mencontek?” pertanyaan itu muncul dari mulut pengawas.
“tidak” kata mereka serempak.
“baiklah kalian boleh keluar sekarang.” Akhirnya inetrogasipun selesai. Dan mereka keluar dari ruangan ujian. Sulli mengedarkan pandangannya di sekitar halaman sekolah. Tidak ada orang satupun kecuali mereka, tukang kebun dan dua orang pengawas yang sedang berkeliling.
“apakah kita boleh pulang sekarang? Aku mengantuk lagi.”
“aissh. . . . . Luna kau itu kerjaannya hanya tidur saja. Tidak ada kegiatan lain apa?"
“ada kok.”
“apa?”
“belajar, sekolah, main dengan kalian. Kurang apa lagi?”
“ah. . . . sudahlah.” Mereka meninggalkan Luna untuk pergi kekantin.
“hei kalian mau kemana? Aku ikut.” Luna berlari mengikuti lainnya. Memang sih teman Sulli yang satu ini tidak nyambung jika di ajak bicara tapi kalau sudah berurusan dengan soal ia tidak bisa diragukan lagi. Sangat cerdas itulah kata yang tepat untuknya. Mereka duduk dikantin dan mulai membicarakan sesuatu seperti biasa.
“mau masuk universitas mana kamu Sul?”
“aku di Universitas Seoul. Kalian?”
“kalau aku di UI ajalah yang dekat hehehe.” Ucap Ayu. Sulli mengarahkan matanya ke Luna.
“apa?”
“hadeh aku bertanya kau mau kuliah dimana?” ucap Sulli yang sudah kesal dengan seikap Luna yang lemot.
“oh. . . . aku di suruh ayahku ke Singapur ikut dengannya sekalian melanjutkan sekolah.”
Begitu juga dengan teman Sulli yang lainnya. Kebanyakan memang melanjutkan keluar negeri. Bell tanda selesai ujian pun berbunyi. Semua siswa keluar dengan muka masam. Setelah beberapa jam menunggu akhirnya pengumuman sudah di tempelkan di papan pengumuman. Kali ini Sulli mendapat peringkat pertama paralel. Dia pun senang dengan hal itu ‘ayah aku berhasil’ ucap Sulli dalam hati. Mereka (Sulli dan sahabatnya) mengambil berkas - berkas yang akan dibawa ke universitas di kantor guru.
“permisi pak”
“oh silahkan masuk dan ini surat – suratnya. Wah nak Sulli kau itu pintar selalu mendapat peringkat atas terus.” Ucap pak guru sambil sedikit tertawa.
“terima kasih banyak pak.”
“teman siapa dulu dong Luna. Hehehe”
“kami permisi pak.”
“iya”

Mereka akhirnya pulang dan membawa kabar gembira kepada keluarga mereka sendiri-sendiri.  Sulli memberi kabar ini pada keluarganya. Sudah beberapa hari ini ia mempersiapkan diri untuk pergi ke Seoul dibantu oleh orang tuanya. Ayahnya mempersiapkan sebuah apartemen utuk Sulli sekalian untuk hadiah juga. Sedangkan ibunya menyiapkan keperluannya disana. Lusa Sulli sudah berangkat kesana sebenarnya masih satu beulan lagi masuk ke universitasnya, tapi apa boleh buat, ia harus mengenal dulu daerah sekitar yang akan di tempatinya.

TBC

No comments:

Post a Comment