Tuesday, February 19, 2013

I Found My Love In Seoul [Part 2]


Author : hys2918
Genre : Romance

Cast :
- Choi Henry
- Sullindah
-and Other cast


Chapter 2
Hari ini Sulli berangkat ke Seoul dan diantar oleh orang tuanya ke Bandara. Barang yang dibawa Sulli tidak terlalu banyak hanya beberapa pakaian dan barang kesayangannya saja.
~~~~
‘Seoul I’m coming’ ucapku setelah sampai di bandara Incheon salah satu bandara Internasional di Korea Selatan. Aku sedikit merenggangkan tubuhku karna setelah beberapa jam duduk di pesawat rasanya badan ini seperti remuk-remuk. Kulihat selembar kertas yang kubawa dari rumah yang berisikan alamat Apartementku di sini. Ada beberapa supir taksi yang menawarkan diri untuk di tumpangi taksinya. Tapi aku lebih memilih berjalan menyusuri jalan di kota Seoul sambil mencari udara segar di sekitar sini. Udaranya lumayan dingin hari ini. Akhirnya sampai di tempat yang aku tuju. Aku sudah di beri tahu ayahku password apartemmen ini. Aku masuk ke apartemen, kulihat tempatnya cukup luas jika ku tinggali sendiri. Sebelum membereskan semua ini, aku pergi membeli beberapa makanan untuk persediaan dulu di depan gedung yang tinggi ini. Ku ambil jaket tebal dan tas lalu pergi keluar.
Saat aku keluar dari apartemen, aku lihat seseorang yang menurutku cukup lumayan untuk dilihat, ia berjalan berdampingan denganku saat ini. Aku berjalan ke supermarket di sebrang. Aku menunggu hingga jalan berhenti untuk mempersilahkan orang yang berjalan kaki. Sambil menungu aku mengotak – atik ponselku yang penuh sms masuk dari teman-temanku. Ting~~ suara lampu yang tegak(?) di sampingku ini. Aku langsung meyebrang dan memasuki super market itu. Memilih beberapa makanan yang dapat disimpan sampai satu minggu. Yah aku ini memang malas jika harus pergi keluar.
~~~~
Hari  ini Sulli berangkat ke universitas dimana ia akan mendaftarkan diri. Ia sudah memesan taksi sebelum ia pergi tadi, taksinya pun sudah menunggu didepan gedung. Sulli berjalan keluar sambil mengecek tasnya ada yang tertinggal atau tidak. Ia memasuki taksi, tapi tunggu ada yang orang yang ikut dengan taksi yang ditumpanginya.
~~~~
Ada apa ini kenapa ia ikut masuk. ‘Ini taksi yang sudah ku pesan tau’ aku ingin memarahinya tapi kenapa pakaiannya aneh seperti artis yang dikejar fansnya saja.
“tujuan anda?” tanya supir taksi itu.
“Universitas Seoul” ucap kami bersamaan. Ikut-ikut saja kau cih.
“apakah kalian pasangan?”
“kenal saja tidak. Bagaimana mau jadi pasangan?” ucapku tidak peduli.
“iya. Kami pacaran.” Hey aku saja belum tau siapa namamu kau sudah bilang kalu aku ini pacarmu.
“ah baiklah.” Ucap supir taksi itu akhirnya. Selam perjalanan kesana tidak ada pembicaraan dari kami. Setelah beberapa menit sampai juga di Universitas Seoul. Eh....kenapa ia pergi begitu saja, tidak membayar taksi pula.
“maaf pak saya hanya membayar diri saya saja.”
“tidak apa-apa karna kalau peraturan di taksi saya dua orang yang pacaran naik taksi saya itu bayarnya hanya separuh” ucap pria paruh baya itu dengan senyum tulusnya.
“terima kasih pak”
“sama-sama” katanya lalu pergi.
“sudah menganggap aku pacarnya, tidak mau membayar taksi juga lagi” gerutuku saat aku berjalan ke arah sebuah aula di universitas. Sial aku baru disini dua hari sudah seperti ini. Bagaimana kalau bertahun-tahun jadi apa nanti. Bagimana ini tempatnya sudah penuh semua batinku mataku menyusuri semua sudut ruangan. Ah ada tempat kosong di belakang.
Aku meletakan tasku terlebih dahulu setelah itu duduk lalu memperhatikan peraturan yang di paparkan oleh pembimbing. Dibagikannya kertas soal yang akan di uji. Aku mengerjakannya dengan sungguh-sungguh, soalnya ujian ini yang menentukan aku masuk di sini atau tidak. Aku selesai hampir bersamaan dengan yang lainnya. Aku berkeliling terlebih dahulu sambil menunggu pengumuman, sekalian mengenal tempat ini juga sih. Ku keluarkan kamera untuk memfoto beberapa tempat yang bagus disekitar sini. Tiba-tiba ada suara yang menggema di seluruh kampus ini.
“Perhatian. Bagi anda yang mengikuti ujian masuk Universitas silahkan kembali ke Aula. Terima kasih.”
Untung aku sudah belajar bahasa sini, jadi bisa mengerti apa yang dia bicarakan yah walaupun masih diartikan urut satu-satu sih. Aku berjalan kembali ke aula. Ku lihat namaku dari bawah ke atas, lagi pula tidak mungkin aku ada diperingkat atas. Eh.... kenapa ada di peringkat lima besar, ini tidak mungkin lagian aku tadi tidak yakin dengan jawabanku. Tak kurasa air mataku menetes mungkin karena terlalu bahagianya. Aku mengusap air mataku saat seseorang menepuk bahu ku.
“Sulli ya. Kau Sullindah bukan?” tanya orang itu.
“iya ini aku. Anda siapa ya?” aku memang belum jelas melihat orang itu, soalnya mataku seperti masih ada airnya.
“wah Sulli aku tidak menyangka bertemu denganmu disini. Mukamu memang tidak berubah ya, dari dulu sampai sekarang sama saja. Aku Park Nana, apakah kau masih ingat?” ucapnya memelukku.
“ah Park Nana teman SD ku bukan. Hey kenapa kau tidak pernah memberi kabar lagi setelah kau pindah di sini?”
“maaf aku lupa alamat rumah mu. Lagi pula aku juga sibuk saat sekolah disini”
“kau kan bisa mengirim email.”
“di tahun itu mana ada email.”
“oh iya hehehe” ucapku cengengesan.
Kalau Nana dia memang orang yang berasal dari sini, ia pindah ke indonesia karna ayahnya mempunyai pekerjaan di sana. Kami berjalan-jalan mencari kios-kios di pinggir jalan. Katanya sih enak-enak. Kami membeli ttopokki, aku sudah pernah makan ini di sebuah restoran korea yang ada di Indonesia. Aku pualng dengan senang hari ini, sekarang disini aku punya teman yang bisa membantuku dalam segala hal. Bisa di bilang dari dulu sebenarnya kami ini bersahabat. Tapi sudah lama sekali tidak bertemu. Nana mengantarku sampai ke apartemen soalnya ia takut kalau aku tersesat nantinya. Ku rebahkan badanku, setelah capai berjalan-jalan dengan Nana.
~~~~
Mulai hari ini Sulli setiap pagi akan merasakan segarnya udara pagi Seoul dan Nana berjanji akan membangunkannya setiap hari atau sebaliknya. Ia mempersiapkan buku yang akan di bawanya nanti. Tak lupa ia memasukan sebuah kamus kecil untuk jaga-jaga jika ada apa-apa. Sulli keluar dari apartemennya dengan tergesa-gesa, karena Nana sudah menunggunya di bawah. Saat ia mengecek barangnya tak sengaja ada bahu yang menyenggol tangannya dan membuat ia kehilangan keseimbangan hingga akhirnya ia terjatuh juga.
“Kau tidak apa-apakan?” tanya Nana yang khawatir pada Sulli.
“Tidak papa. Aku tadi hanya kehilangan kesesimbanganku saja.” Jawab Sulli tersenyum.
“kau masih saja seperti dulu. Sepertinya ia sengaja melakukan padamu.”
“apa kau mengenalnya?” ucap Sulli sambil berjalan menuju mobil yang di bawa Nana.
“iya. Eh kenapa kau bertanya seperti itu. kau tidak mengenali wajahnya?” Sulli hanya menggeleng tanda tidak mengerti.
“Astaga Sulli katanya kau itu tau segalahal tentang korea kenapa kau tidak tau orang itu. Dia itu penyanyi Solo terkenal tau. Bahkan ia sudah debut di Amerika. Dia juga salah satu temanku juga di SMA. Kami juga dekat, tapi kalau di luar sekolah. Kalau masih di lingkungan sekolah dia sok tidak kenal denganku” Jelas Nana panjang lebar dan yang diberitahu hanya manggut-manggut saja.
“memang namanya siapa?” tanya Sulli dengan wajah polosnya.
“namanya Henry, Choi Henry.”
“ya sudah nanti aku akan cari tau tentangnya. Ayo masuk kelas, sebentar lagi mereka akan memulainya.” Kata Sulli setelah sampai di Kampus.
Karna mereka mengambil jurusan yang sama yaitu Seni, jadi mereka mengikuti kelas yang sama juga pastinya. Mereka duduk berdampingan di bagian tengah ruangan. Hari ini belum ada jadwal yang ditentukan. Saat mereka saling berbincang, ada seseorang yang berpakaian sama yang dilihat Sulli tadi saat di apartemen. Dan ia duduk di belakang Sulli. Akhirnya ada seorang dosen yang masuk ke kelas. Dosen itu memberikan beberapa lembar kertas pada setiap muridnya yang satu berisi sederet jadwal dan yang satunya bioadata yang harus di isi.
“anak-anak, biodata itu kalian isi dan harus kumpulkan sekarang mengerti!” kata dosen yang memiliki wajah seram yang membuat muridnya berdigik ngeri melihatnya.
“mengerti pak” jawab mereka sema serempak. Mereka akhirnya selesai juga. Semua murid mulai di panggil satu – satu oleh dosen itu.
“Choi Henry? ..(seseorang mengangkat tangannya).. oh ternyata kau, kukira kau tidak akan masuk ke universitas ini. Berpakaianlah seperti biasa disini mengerti ...(Henry menganggukkan kepalanya lalu membuka topi dan kacamata yang ia kenakan.).. Sullindah?”
“iya” ucap Sulli mengangkat tangannya. Sulli.......Sulli mukamu memang tidak berubah sama seperti foto yang di beri oleh Nana batin Henry.
“Park Nana?” dan seterusnya hingga tidak ada lagi yang tersisa.
Dosen itu bilang kalau ia adalah dosen khusus untuk alat musik saja dan wali kelas, mata pelajaran lainnya di pegang oleh dosen lainnya. Di hari pertama ini mereka di suruh untuk memainkan alat musik yang ada di ruangan ini. Di ruangan ini banyak sekali alat musik seperti biola, piano, gitar, dan yang lainnya. Sekarang giliran Sulli “Fighthing” ucap sahabatnya sambil mengepalkan tangannya untuk menyemangati, Sulli hanya bisa memainkan dua alat saja yaitu gitar dan piano. Pertama ia memainkan piano dan melantunkan lagu Nothing Better dari Brown Eyed Soul, dan yang kedua dengan menggunakan gitar ia menyanyikan lagu Honesty SHINee. Setelah selesai ia mendapatkan tepuk tangan yang meriah yang berarti ia melakukannya dengan baik.
“pacarku memang pintar memainkan alat musik.” Ujar seseorang di belakang Nana.
“Sejak kapan Sulli jadi pacarmu?” sambung Nana yang mendengar ucapan Henry tadi.
“Sejak kemarin. Dia orang yang kuceritakan kemarin. Yang kutemui di taksi saat aku terburu-buru menuju kesini.“ ucap Henry matanya masih menatap Sulli kagum.
“oh...”
“nanti ajak ia bertemu denganku okey. Pasti ia kaget melihatku sekolah disini juga.”
“tidak akan. Dia sudah kuberitahu siapa kau. Dari awal dia tidak perduli denganmu.” Ujar Nana yang kembali focus melihat kedepan.
“ayolah” ucap Henry dengan wajah memelas dan menarik – narik tangan Nana.
“kau itu seperti anak kecil yang minta permen saja. Baiklah kita bertemu di kantin oke.” Jawab Nana cepat – cepat karna melihat Sulli yang menuju bangku di sebelahnya.
Satu jam berlalu kelas selesai, mereka-Sulli,Nana-menuju kekantin sesuai dengan rencana yang di buat Henry tadi. Henry berjalan menghampiri dua orang yang sedang makan dengan lahapnya di sudut kantin. Tiba-tiba banyak orang mengerumuninya untuk meminta tanda tangan, foto dan  yang lainnya. Apakah ada jumpa fans di sini, tapi mana artisnya tidak ada pikir Sulli. Saat melihat Henry yang di kerumuni itu Sulli langsung bilang kepada Nana untuk menyelamatkan Henry. Karna ia tau mereka adalah teman baik dari dulu. Nana langsung saja berlari ke Henry dan menariknya keluar dari kerumunan itu. Henry duduk di sebelah Sulli.
“hey baby “ sapa Henry ke Sulli yang langsung dijawab kethus olehnya.
“namaku Sulli bukan Baby mengerti!”
“apakah kau masih ingat denganku?”
“iya aku ingat. Kau adalah orang yang menabrakku tadi di apartement bukan.” Lalu memakan makanannya.
“apa kau tidak memberi tahunya?” tanya Henry kini pada Nana.
“tidak. Kenapa memangnya? Kurasa itu tidak penting baginya.” Jawab Nana.
“Sulli, aku itu orang yang sudah menganggap kau pacar saat di taksi. Kau ingat?”
“iya aku tau. Sekarang kembalikan uang ku yang untuk membayar taksimu kemari cepat!” ucap Sulli menatap tajam Henry.
“baiklah. Ini” jawab Henry sambil mengeluarkan beberapa uang kertas. Sebenarnya tidak apa-apa ia tidak mengembalikannya. Aku kan bisa meminta ayahku untuk mengirim uang, tapi aku juga tidak enak dengan ayah makanya aku memintanya untuk mengembalikan uang itu pikir Sulli.
~~~~
Dasar dibohongi begitu saja kau mau. ‘Apa aku cari pekerjaan saja ya’ Tiba-tiba ucapan itu mengalir di otakku. Ah benar juga bagaimana kalau kerja part time jadi kan tidak menyusahkan keluargaku. Nanti minta tolong Nana saja ah untuk bantu carikan pekerjaan. Kali ini kami pulang di antar oleh Henry. Sebenernya aku sudah menolak tapi Nana memakasa dengan alasan untuk mengirit uang naik bus. Padahal aku ingin bicara dengan nana soal tadi. Aku meminta Henry untuk berhenti di cafe dekat jalan yang kami lewati. Ternyata seleranya bagus juga, ia menurunkan kami di sebuah restoran yang sepertinya khusus untuk anak muda. Kenapa Henry ikut turun.
“hey kenapa kau juga turun. Kau tidak ada kegiatan lain apa selain mengikutiku?”
“sebenarnya ada. Tapi satu jam lagi.” Jawabnya berlalu masuk ke dalam resto.
“Sulli, ini restoran yang punya dia. Jadi terserah dia dong mau kesini apa nggak.” Sahut Nana. Aku hanya diam saja tidak mau menanggapinya. “kau tidak kaget?”
“tidak. Di indonesia juga banyak kok artis yang punya restoran, jadi sudah biasa.” Jawab ku dengan santainya.
Aku masuk di ikuti Nana yang ada dibelakangku. Setelah mencari tempat duduk aku memesan dua porsi makanan untuk kami. Saat makananya sudah datang aku mulai menceritakan rencanaku padanya. Awalnya ia menolak untuk membantuku tapi akhirnya ia mau juga. Tiba-tiba ia memanggil Henry. Aish.. kenapa ia belum juga pergi dari sini bukankah katanya ada job satu jam lagi, ini bahkan sudah lewat 30 menit.
“apa?”
“bukankah katamu di sini membutuhkan pekerja part time?”
“iya memang. Kenapa kau bertanya seperti itu? apakah kau mau melamar pekerjaan disini? Tapi kan keluargamu sudah kaya.” cerocos Henry sambil menerawang sesuatu.
“ bolehkah aku bicara? Sulli yang ingin mencari pekerjaan bukan aku.”
“tapi gak di sini juga kali Na!” bisikku pada Nana.
“kau tidak mau. Ya sudah kalau tidak mau, aku juga tidak mau membantumu.”
“baiklah aku mau” kataku pasrah.
“bagus. Apakah masih ada tempat untuknya” ucap Nana tersenyum evil padaku. Kurasa aku dibohongi lagi olehnya. Henry mengangguk. Kami pulang sendiri – sendiri. Nana bilang ada sesuatu yang penting. Sesampainya di rumah perutku terasa lapar. Aku berjalan ke dapur. Lama mengobrak – abrik dapurku aku menemukan dua bungkus mie instan yang ku beli dua hari yang lalu. Aku memang orang pelupa, barang – barang yang aku punya pasti ada yang hilang karna lupa tempat menaruhnya. Akupun mulai memasak mie itu.
Henry Side~~
Mereka sudah pulang. Sebenarnya aku tidak ada jadwal atau lebih tepatnya aku meminta libur satu hari untuk hari yang sangat penting ini tapi itu menurutku. Tiba – tiba ponselku berbunyi tanda telepon masuk. Kulihat layar ponselku tertera nama dari seseorang yang sangat aku kenal.
“hallo” “tidak ada. Aku minta libur pada managerku hari ini. Kenapa?” “ok! Ku tunggu kau.” Ku tutup sambungan telepon tadi dan menuju ketempat yang dijanjikan mereka tadi. Akhirnya sampai juga, kurebahkan tubuhku ke sofa kesayanganku. Bel rumahku berbunyi, cepat sekali mereka baru beberapa menit tadi telepon sekarang sudah sampai batinku. Kupersilahkan mereka semua masuk.
“Hyung (panggilan kakak untuk adik laki-laki) kau punya tetangga baru ya?” tanya seseorang yang paling muda disini.
“dari mana kau tau?” jawab ku memakan cemilan yang mereka bawa.
“aku tadi melihatnya saat ia keluar dari apartemen sebelah.”
“oh.. namanya Sulli, dia juga satu sekolah denganku.”
“ayo kita kesana aku ingin melihat wajahnya secara dekat sekalian mengunjungi tetangga baru.” Sahut Sang Jun dari dari dapur.
“baiklah. Tapi ingat ia sudah jadi milik ku mengerti?” mereka mengangguk. Kami pun berondong – bondong ke rumah Sulli. Setelah beberapa lama kami mengetuk pintu akhirnya dibukakan oleh seseorang. Sepertinya yang membukakan pintu bukan Sulli, soalnya badannya lebih kurus.
“hei Nana kenapa kau bisa disini. Bukannya kau tadi ada urusan?” saat ku tau Nana seseorang itu.
“dia tadi menyuruhku untuk menemaninya makan dirumah. Terus kalian semua kenapa kesini?” tanyanya balik.
“mereka ingin bertemu tegangga baru ku. Kenapa?” ia seperti berpikir sesuatu.
“Nuna(panggilan adik laki-laki untuk perempuan lebih tua) biarkan kami masuk dulu! Kami capek berdiri terus.” Minta temanku pada Nana.
“tunggu sebentar. Sulli mereka boleh masuk tidak?” ucapnya teriak ke Sulli, untung telingaku sudah ku tutup. Kalau tidak bagaimana nasib telingaku ini gara-gara suaranya yang cempreng itu. Kucium aroma harum dari masakan dari dapur. Apakah Sulli bisa memasak? Tapi kudengar dari Nana ia tak suka masuk kedapur untuk mengerjakan hal itu. Ah.... mungkin saja ia belajar memasak sebelum kesini. Yah itu bisa jadi.

TBC

No comments:

Post a Comment