Sunday, August 4, 2013

I Found My Love In Seoul [Part 3]

I Found My Love In Seoul [Part 3]


Author : hys2918
Genre : Romance

Cast :
- Choi Henry
- Sullindah (OC)
-and Other cast

Chapter 3

Apakah aku bermimpi sekarang ini? Aku dikenalkan oleh artis terkenal yang aku kenal pula. Bagaimana ini aku sangat gugup, berhadapan dengan Mir, Baro, dan lain – lain Mengingat ini sudah jam makan malam ku ajak saja mereka makan disini. Sebenarnya Nana melarangku mengajak makan mereka karna alasan belum kenal dekat dengan mereka. Yah apa boleh buat sekalian saja untuk menambah teman. Untung tadi aku dan Nana memasak banyak makanan. Walaupun hampir semua masakan Nana yang masak. Karna dari tadi aku masak mie instan tidak jadi terus jadi aku panggil saja ia kesini. Kami pun melanjutkan perbincangan di meja makan.

“Sulli, bahasa korea mu lumayan bagus pasti kau belajar keras sebelum kesini?” tanya Sang Jun orang yang bersama Henry tadi.

“Ne(iya).”

“cepat selesaikan makan kalian lalu pulang. Mengerti?” ucap Henry tiba – tiba lalu pergi ke ruang tamu, teman – temannya pun mempercepat makannya.

“yang punya rumah siapa, yang marah – marah siapa. Dasar” gerutuku.

“Sul, mungkin ia marah karna kita cuekin dari tadi?” sangka Nana.

“mungkin juga. Dari tadi kan memang kita bicara hanya dengan mereka saja.” aku pun membetulkan hal tersebut.

“kami pulang dulu ya. Maaf tidak membantu kalian beres – beres. Bye.” Ucap salah satu dari mereka.

“tumben kau bicara seperti itu. biasanya kalau kerumahku tidak begitu.” Sindir Nana.

“diam kau!” sergah Henry. Nana langsung bermbunyi di balik tubuhku yang tinggi.

“tidak apa – apa.” Ucapku lalu tersenyum. Mereka pun berlalu meninggalkan kami dan masuk kerumah Henry yang ada di sebelah. Aku masuk ke rumah dan mulai membereskan piring – piring kotor yang dipakai tadi. Kami membagi tugas. Nana bagian membersihkan meja makan, sedangkan aku cuci piring. Setelah satu jam semuanya selesai. Kami menjatuhkan tubuh di sofa. Tubuhku saat ini seperti diremuk – remuk.

“Sulli, aku langsung pulang saja ya. Sudah malam.” Ucap Nana berpamitan padaku.

“kau tidak menginap disini?”

“aku belum ijin pada ibuku lain kali saja ya.”

“baiklah kuantar kau sampai depan gedung. Ok!”

“baiklah. Dasar pemaksa” aku mengantarnya ke depan gedung. Tak sengaja aku bertemu mereka lagi dan ngobrol sambil jalan ke keluar. Nana dan yang lainnya sudah pergi untuk pulang kerumah masing – masing. Aku kembali ke apartemen dan langsung menuju kamarku. Rasanya hri ini benar – benar seperti mimpi, sudah lama aku memimpikan untuk bertemu mereka. Akhirnya itu terjadi juga. Akh~~~~ aku ingin berteriak sekencang – kencangnya meluapkan kegembiraanku ini. Setelah memikirkan hal apa yang akan kulakukan besok, aku pun bernjak tidur.
~~~~

1 Bulan Kemudian~~~
Sulli terbangun dari tidurnya karna suara ponselnya. Ia melihat ada satu SMS masuk. „pasti ini Nana. Aduh kenpa sms di pagi buta seperti ini‟ pikirnya. Saat melihatnya ia terbelalak, ternyata itu sms dari Henry.

To : Sulli
Kutunggu kau di taman belakang gedung sekarang. Henry.

From : Sulli
Mau apa memangnya?

To : Sulli
Jangan banyak tanya. Cepat kesini!

From : Sulli
Baiklah

Akhirnya Sulli mengiyakan ajakan Henry. Setelah berdebat tadi. Ia langsung mencuci muka dan berganti baju. Ia menuju taman belakang dengan gotai. Suzy melihat jam di ponselnya. “aishh.... kenapa ia harus menyuruhku keluar di pagi buta seperti ini.” Ucapnya marah – marah sambil merapatkan jaketnya karna kedinginan.

~~~~

Di mana Sulli kenapa ia belum datang juga aku hampir kedinginan di sini. Ku telfon ponselnya tapi di reject. Ku sms saja lah.

To : Sulli
Kau dimana? Aku hampir membeku disini.

From : Sulli
Aku di belakangmu.

Tulisnya singkat, aku menengok kebelakang dan melihat seseorang dengan rambut panjang di depan seperti sadako. Tapi orang ini seperti Sulli. Ia pun mendekat tapi kenapa rasanya menakutkan.

“YA! Siapa kau?” akhirnya aku berteriak juga. Ia membuka rambutnya.‟Hei orang itu hanya Sulli kenapa kau sampai takut seperti ini‟ batiknku.

“bwahahaha ... begitu saja takut. Cepat kau mau bicara apa?” tawanya puas melihatku ketakutan, apakah begini kelakuannya jika ada orang ingi bertemu dengannya dengan baik – baik.

“ingat hari ini kau harus bekerja di cafe ku.” Ucapku to the point.

“hanya itu saja. Kau itu benar – benar menganggu tidurku tau. ya sudah aku pulang dulu.”

“Sulli ini sudah pagi kau tidak kuliah.”

“memang jam berapa masuknya?” tanyanya apa ia orang yang pelupa sampai jadwal kuliah pun tak di ingatnya.

“jam 8 pagi” ia melihat ponselnya. Ia shock melihat jam sudah menunjukan pukul 6.30 KST. Ia berlari kedalam gedung, aku hanya tertawa melihat tingkahnya yang seperti anak kecil itu. aku pun juga melihat jam tanganku, aku baru sadar kalau aku satu kelas dengannya langsung saja aku pergi meninggalkan taman itu lalu ke apartemen.

~~~~

Hari ini mata kuliah banyak yang kosong. Jadi Sulli dan Nana shopping di sebuah pusat perbelanjaan terbesar di Seoul. Untuk membeli beberapa keperluan mereka dan membeli sebuah hadiah untuk ibu Nana, sore ini juga ia berangkat kesana.

“Nana, apa kau setiap sekolah harus pulang pergi sejauh ini?” tanya Sulli saat di perjalanan.

“ini tidak jauh kok. Perjalanan dari sini ke sekolah hanya 30 menit itu tidak lama” jawab Nana lalu fokus ke jalan lagi. Beberapa menit kemudian mereka di hadang oleh dua orang yang samar – samar mereka mengenalnya tapi karena hari sudah petang jadi tidak terlalu terlihat.

“aduh bagaimana ini? Aku takut. Apa kau mengenal mereka?” tanya Sulli ketakutan.

“tidak. Aku tidak kenal dengan mereka.” Jawab Nana dengan santainya.

“kau itu bagaimana sih. Katanya kau itu preman di sini. Bukannya mereka kelompokmu ya?”

“sungguh aku tidak mengenal mereka.”

Ngomong – ngomong Nana memang kenal dengan preman di sekitar rumahnya ini. Dari depan saja Nana seperti cewek tapi kalau sudah bergul dengan laki – laki kelakuannya sama dengan mereka. Makanya ia jarang punya teman wanita. Tak berapa lama Nana keluar dari mobil. Sulli yang melihat mereka dari mobil merasa aneh karna mereka semua tertawa senang begitu juga dengan Nana. Sulli yang geram degan hal itu akhirnya keluar dari mobil. Ia kaget dengan keberadaan oarng – orang yang kemarin datang kerumahnya.

“loh...” ucapnya tak percaya. „Pantas saja tadi Nana tertawa dengan mereka tadi‟ batin Sulli.

“hai Sulli. Kita bertemu lagi. Tunggu dulu kita sudah bertemu dua kali lebih malah berarti kita jodoh. Terima kasih tuhan kau memberiku jodoh sebaik dan secantik dia.” Ucap Sang Jun sambil
berpikir dan berdo‟a. Henry mengijak kaki Sang Jun tanda peringatan. Sulli hanya melihat mereka aneh.

“sudah kalian pergi saja sana. Mengganggu perjalananku saja.” Usir Nana.

“Nana biarkan kami menumpang mobilmu. Memangnya kau mau kemana?” tanya Sang jun.

“dia mengantarku ke rumahnya.” Sahut Sulli.

“oh... begitu. Ya sudah aku juga mau kesana.” Ucap Henry.

“mau apa kau ke rumahku?” tanya Nana ke Henry.

“aku di suruh ibumu, untuk membantunya. Katanya di sana ada acara dan aku di suruh menyumbang sebuah lagu.” Jawab Henry lalu tersenyum.

“lalu mobilmu kemana?”

“bannya bocor dan aku tidak bawa ban serep. Lagi pula jika aku pergi ke tempat tambal ban aku akan terlambat.” Jelasnya panjang lebar.

“memang acaranya di mulai jam berapa?”

“15 menit lagi.”

“ya sudah kalian berdua masuk ke mobil.” Nana terpaksa harus mengangkut mereka. Ini juga demi kebahagiaan ibunya. Saat sampai di rumah Nana mereka disambut baik oleh keluarganya, terutama Sulli yang sudah beberapa tahun ini tidak bertemu. Ibu Nana meminta Sulli untuk menginap disini beberapa hari dan Sulli menyutujuinya walau itu karna paksaan dari sahabatnya.

~~~~

Nana Side~~~

Kenapa aku di suruh jadi MC mendadak sih apa eomma(ibu) tidak mempersiapkannya tadi gerutuku saat berjalan ke tempat acara yang di buat eomma ku. Saat Henry naik ke atas panggung semua orang berteriak termasuk sahabatku Sulli. Yah memang diam – diam ia memang seorang fans berat Henry walaupun di depan idolanya ia tidak mengakui hal tersebut. Ia
bilang ia akan dingin pada idolanya. Saat penampilan Henry nanti ada hal yang tidak terduga, yang membuat para Fansnya tidak bisa menerima hal tersebut.

“lagu ini ku persembahkan untuk orang yang sangat aku sayangi sejak pertama bertemu.” Henry mulai memetik gitarnya melantunkan sebuah lagu. Semuanya terhanyut oleh suaranya yang merdu termasuk aku. Walaupun aku dari dulu mendengarkan ia bernyanyi. Tapi ini rasanya beda, ada rasa yang sangat tulus yang ditunjukan khusus untuk seorang yang ia sayangi.

“Sulli, maukah kau jadi pacarku?” semua orang shock dengan ucapan Henry tadi dan membuat suasana menjadi ricuh. Ini dia hal yang tidak bisa diterima oleh fansnya. Kulihat Sulli menundukkan kepalanya untuk berpikir. Aku sudah mengethuinya sejak beberapa hari yang lalu. “YA! Apa yang ia lakukan, kenapa ia malah turun dan menghamiri Sulli” ucap ku marah – marah sendiri aku takut kalau nanti saat pulang akan di tindas oleh fans Henry.

“Sulli, maukah kau jadi pacarku?” ucap Henry ke Sulli sambil berlutut, dari kejauhan aku bisa melihatnya. Aduh bagaimana ini. Bagaimana kalau Sulli malu karna ia melakukan hal seperti itu di acara besar seperti ini. Ah tidak mungkin toh Sulli juga suka dengannya. Jadi tolong terima dia Sulli. Harapku dari jauh.

“iya, aku mau.” Jawab Sulli akhirnya aku lega dengan hal itu. Tapi tunggu kenapa Fans Henry malah ikut bahagia? ah itu tidak penting yang peting kedua sahabat baikku bahagia bersama.

~~~~

Wah... dia menyanyikannya dengan bagus sekali. Aku ingin besok jika aku tembak oleh seorang cowok, aku ingin ia melakukannya dengan seperti itu. Menyanyikan lagu di depan semua orang lalu menembakku saat itu juga. Pasti rasanya seperti melayang – lanyang di atas langit. Henry sudah menyelesaikan lagunya semua orang yang menonton bertepuk tangan kagum termasuk aku.

“Sulli, mau kah kau jadi pacarku?” kenapa ia bertanya seperti itu? apa ia serius mengatakannya? Apakah aku sedang bermimpi? “Sulli, keluarlah dari hayalanmu” perintahku pada diriku sendiri. Kenapa ia malah mendekat. Nana kemarilah aku butuh bantuanmu. Kenapa pula ia mengucapkan hal yang sama dan berjongkok dihadapanku.

“iya, aku mau.” Akhirnya aku bisa mengatakan kata – kata itu juga. Dan aku lega karna terbangun dari pikiran dengan segudang pertanyaan ini. Tiba – tiba ia memelukku dan mengucapkan sesuatu.

“Gomawoyo(makasih) Sulli, gomawo karna kau sudah menerimaku. Semoga kau tulus bicara seperti itu” Ucapnya. Aku pun membalas pelukannya.


“sama – sama. Aku tulus menerimamu walaupun kau bukan seorang artis pun aku juga akan menerimamu” balasku sambil tersenyum.

TBC... 


No comments:

Post a Comment