Sunday, August 4, 2013

I Found My Love In Seoul [Part 5 END]

I Found My Love In Seoul [Part 5 END]


Author : hys2918
Genre : Romance

Cast :
- Choi Henry
- Sullindah (OC)
-and Other cast


Chapter 5


_D-7 ke Hari Pernikahan_

Hari ini kami di beri kesempatan untuk mencoba baju pengantin yang terakhir kalinya. Seharusnya Henry sudah menjemputku sekarang, tapi kemana dia tidak mucul juga dari tadi. Aku sudah menunggunya dari setengah jam yang lalu. Tiba – tiba ponselku bergetar.

To : Sulli
Mianhae(maaf) aku tidak menjemputmu. Ada kerjaan mendadak. Kau pergilah dulu kesana nanti aku akan menyusulmu.

Pasti seperti ini. Tapi aku memakluminya, pekerjaannya dan semuanya. Aku tau jika aku berpacaran dengan artis akan seperti ini. Apa boleh buat sudah terlalu cinta padanya. Aku menstop taksi yang lewat di depan gedung apartemen lau melakukan perjalanan ke sebuah butik dimana aku memesan Gaun pengantin. Saat aku masuk kulihat Ki Bum oppa(panggilan seorang adik perempuan ke kakak laki-laki) teman Henry sedang ada di situ. Sebenarnya butik ini milik Ki Bum oppa tapi dikelola oleh orang lain karna kesibukannya yang padat harus pergi keluar kota, keluar negeri dan sebagainya.

“Sulli, kau sudah datang. Henry tidak datang bersamamu?” tanyanya, pasti pertanyaan itu terus malas aku harus menjawabnya.

“kau taulah oppa” ucap ku sambil memilih – milih baju.

“ah... baiklah. Yang sabar ya. Memang begitu resikonya menjadi pacar seorang artis besar.” Ucapya menasehatiku, dari pertama bertemu ia sudah kuanggap kakakku sendiri. Aku sering curhat padanya dan ia mengerti semua isi hatiku sampai saat ini.

“Sulli, ini baju yang kau pakai minggu depan cobalah dulu. Nanti kalau kurang apapun tinggal bilang saja padaku ok!”

“ne” aku berjalan menuju kamar pas. Saat mencobanya aku berpikir jika tangan Key oppa adalah tangan melaikat. Bagaimana tidak ia bisa membuat desain sebagus ini dalam waktu satu bulan. Biasanya hingga berbulan bulan.

“bagaimana apakah ada yang harus diubah?” tanyanya sesaat setelah aku keluar dari kamar pas.

“tidak usah ini sudah bagus. Bagus sekali malah.” Jawabku tersenyum.

“kau itu bisa saja. Ya sudah biar gaun ini di simpan di butik ini dulu besok kalau sudah harinya biar diantar ke rumahmu ok!”

“ne”

_D-Day Hari Pernikahan_

Sulli mematutkan dirinya di depan kaca yang memperlihatkan seluruh badannya. Hatinya berdebar kencang merasa gugup karna ini adalah hari yang paling ia tunggu. Di lain ruangan terlihat seorang laki – laki memakai tuxedo berdiri menalami tamu yang datang. Hatinya pun sama dengan Sulli berdegup kencang. Saatnya pun tiba Sulli berjalan ke altar dengan ayahnya.

~~~~

Saat aku berjalan ke altar ku edarkan pandanganku melihat sekeliling. Kukira ada media yang akan meliput ternyata tidak. Tamunya hanya rekan kerja ayahku dan ayah Henry, teman dekat termasuk teman – temanku yang ada di indonesia, mereka jauh – jauh kesini kami memang tidak menggelar pesta pernikahan di sana hanya di sini. Karna jadawal henry yang padat. Kami-henry,sulli- mengucapkan janji sehidup semati di depan pendeta dan semua orang yang ada di gereja ini. Setelah itu kami resmi menjadi suami istri. Tiba – tiba Henry mengecup keningku lembut. Seperti biasa diacara pernikahan pasti ada acara pelemparan bunga. Kulemparkan sebuket bunga yang sedari tadi aku genggam. Tak kusangka Nana sahabatku yang mendapatkannya. Soalnya kulihat Nana hanya diam saja sesekali ikut bertepuk tangan, ku pikir ia sedang sakit.

“YA! Sang Jun cepat nyatakan cintamu padanya sebelum terlambat!” teriak Henry semunya pun tertawa. Kelakuannya ini seperti anak kecil saja, sudah punya istri juga. Yang di sebut hanya menundukkan kepalanya malu. Kulihat Nana mengancam Henry. Hari pernikahan pun selesai. Kami tinggal di apartemen yang baru apartemen yang lama sudah di jual lagi pula buat apa juga punya rumah banyak – banyak. Setelah aku berganti baju dan membersihakan make-upku aku bertanya pada Henry.

“oppa, apa kau pernah membaca diary ku?” tanyaku sambil membersihkan make-up.

“pernah. Semuanya malah.” Jawabya santai.

“jadi kau saat di mana kau menembakku dan melamarku. Semua itu atas tuntutan diaryku?” ucapku kecewa.

“tidak. Aku memang mempersiapkan itu 1 bulan sebelum aku melakukan itu. wae(kenapa)?”

“tidak pa pa. Aku hanya kecewa saja jika kau melakukannya karna permintaanku yang ada di diary dan kau tidak tulus melakukannya.”

“aku tulus melakukannya karna aku menyayangi mu sangat menyayangimu.”

“terima kasih oppa.”

_FIN_

No comments:

Post a Comment